(Cerpen berikut adalah cerpen terbaik ke-2 kategori umum/mahasiswa dalam lomba Pentas Cerpen Islami (PENCIL) “Biarkan Pena Bicara” tahun 2007 yang diselenggarakan oleh FORKIM FIA UB dan FLP Malang, yang mana _pemilikblog adalah salah satu panitia kegiatan tersebut. _pemilikblog sempat menitikkan air mata ketika membaca cerpen ini, sungguh mengharukan! Moga manfaat.)
Oleh: Rialita Fithra Asmara*
Tubuh tua itu hampir renta termakan usia, tetapi jangan tanya kemampuan membacanya. Dia masih mampu membaca segala macam tanda, tanda yang sengaja disebarkan Sang Maha Agung pada segala penjuru tak peduli barat atau pun timur. Dititipkan-Nya tanda itu juga pada segala makhluk yang menghuni bumi, termasuk tubuh tua itu, ya di tubuhnya itu sekarang tersimpan tanda dan dia bisa membacanya.
Hari masih terlalu pagi tetapi kesibukan mencetak mimpi sudah dimulai, tubuh tua itu baru saja menjeda udara subuh yang menusuk lewat pertemuan yang agung dengan pemilik waktu. Seperti biasa, Pak Harjo pemilik tubuh tua itu sudah siap dengan korannya dan kaca mata bacanya di taman depan rumah. Pak Ming, pelayan setianya itu sudah mulai memberi makan ikan hias di kolam, tampak beberapa ikan berlompatan saling berebut makanan. Dari arah dapur terdengar suara istrinya yang membahana seperti lonceng pagi yang berdentang, memerintah para pelayan untuk menyiapkan aneka hidangan, maklum hari itu mereka akan kedatangan tamu agung apalagi kalau bukan calon besan. Baca entri selengkapnya »









Komentar Terakhir