Dan tibalah waktu ajal bertamu
Penuh ketenangan jiwamu berlalu
Linangan air mata syahdu
Iringi pemergianmu
Seluruh pelosok Madinah seperti berubah menjadi muram. Hari itu, Senin, 12 Rabi’ul-Awwal tahun 11 Hijriah, selagi waktu dhuha sudah terasa panas, seorang anak manusia yang diutus Rabbnya kepada seluruh umat manusia menghembuskan nafas terakhirnya, pergi untuk selama-lamanya menghadap Allah, Kekasih Yang Maha Tinggi. Ialah Muhammad, sosok teladan umat manusia, wafat di usia enam puluh tiga tahun lebih empat hari.
Detik-detik kepergiannya dilalui saat berada di pangkuan istrinya Aisyah Humaira, saat Allah menyatukan ludahnya dengan ludah istrinya. Di saat detik-detik kepergian itu, ia sempatkan menyucikan mulutnya dengan siwak milik Abdurrahman bin Abu Bakar, sedangkan Aisyah yang menggosokkan ke mulutnya. Di saat detik-detik kepergian itu, ia celupkan kedua tangan ke dalam air di bejana lalu mengusapkannya ke wajah, “Tiada Ilah selain Allah. Sesungguhnya kematian itu ada sekaratnya,” demikian sabdanya.
Di saat detik-detik kepergian itu pula, ia mengangkat tangannya, mengarahkan pandangan ke arah langit-langit rumah dan kedua bibirnya bergerak-gerak seraya berucap, “Bersama orang-orang yang Engkau beri nikmat atas mereka dari pada nabi, shiddiqin, syuhada, dan shalihin. Ya Allah ampunilah dosaku dan rahmatilah aku. Pertemukanlah aku dengan Kekasih Yang Maha Tinggi ya Allah, Kekasih Yang Maha Tinggi.” Dan kalimat terakhir itu diulangnya hingga tiga kali, lalu tangannya melemah. Pergi untuk selama-lamanya menghadap Kekasih Yang Maha Tinggi.
Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un..
Allahumma Shalli ‘ala Muhammad !
Malang, 24 Februari 2010 Pk. 11.17 WIB
Irfan Andi
-Salam Setetes Embun-
—————————–
Sumber: Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfury, Sirah Nabawiyah (judul asli: Ar-Rahiqul Makhtum, Bahtsun Fis-Sirah An-Nabawiyah Ala Shahibiha Afdhalish-Shalati Was-Salam), Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2006
—————————–









Komentar Terakhir