Sarung yang ‘Unik’

4 08 2008

Negara Indonesia diklaim lebih dari 90% penduduknya menganut agama Islam. Islam yang menurut beberapa ahli masuk ke Indonesia dibawa oleh para pedagang dari Gujarat dan India melalui pendekatan budaya, menimbulkan berbagai corak dalam pengamalannya sejalan dengan kemajemukan budaya itu sendiri. Penyebar Islam di nusantara menggunakan sarana budaya untuk mengenalkan Islam kepada masyarakat yang sebelumnya telah memiliki keyakinan kuat dari warisan nenek moyang. Tak heran jika kita sekarang ini melihat masih begitu kentalnya muatan budaya dalam pengamalan ajaran Islam di sebagian masyarakat kita. Beberapa contohnya adalah kenduri, Kain Sarung, bedug dan sebagainya.
Ada satu pengalaman yang sempat menggelitik hati dan fikiran saya, yang tentunya ada kaitan dengan hal tersebut di atas..
Suatu ketika, saya melakukan sholat dhuhur di sebuah masjid di lingkungan tempat saya tinggal. Pada waktu itu, ada seseorang yang juga melaksanakan sholat dhuhur secara munfarid (sendirian). Nah, yang membuat saya heran adalah, ia awalnya memakai celana panjang. Kemudian memakai sarung yang sebelumnya telah disiapkan untuk keperluan sholat. Tetapi, celana yang dipakai tidak dilepas. Dengan kata lain, ia memakai celana dan juga sarung. Dan yang ‘unik’ adalah, celana menjulur lebih panjang dibanding sarungnya..jadi kelihatan lucu.
Saya bertanya didalam hati, apa yang mendasari si pelaku melakukan hal itu?
Apakah ia berasumsi bahwa celana yang ia pakai terkena najis, lantas menggunakan sarung yang suci? Tapi mengapa celananya tidak dilepas..?
Ataukah ia berasumsi bahwa sahnya sholat harus memakai sarung? tentunya dia sendiri yang bisa menjawab.
Berkaitan dengan penggunaan sarung, umat Islam di Indonesia—khususnya Jawa—memang identik dengan hal ini. La Ode Ida pernah menyebut umat Islam di Jawa Timur yang notabene warga Nahdhatul ‘Ulama (NU) sebagai ‘Kaum Sarungan’. Sarung sebagai warisan budaya, menjadi ciri khas umat Islam di Jawa. Sarung tidak bisa dilepaskan dari kehidupan sehari-hari umat Islam, khususnya yang berada di daerah pedesaan. Simple dan nyaman dipakai..
Yang menjadi permasalahan di sini adalah ke’unik’an yang telah saya sebut di atas. Karena ke’unik’an ini ada kaitannya dengan keidentikan sarung dengan Islam (khususnya Sholat). Dan juga sebaliknya. Sebuah ke’unik’an yang seharusnya tidaklah ada di dalam masyarakat kita. Sebuah ke’unik’an yang seharusnya menjadi tanggungjawab perbaikan bagi kita, khususnya para ‘ulama. Sebuah ke’unik’an yang mudah-mudahan tidak menjadikan Islam hanya tampak luarnya saja. Namun, Islam yang penuh dengan kemuliaan, pemahaman yang baik dan benar dari para ‘ulama melalui ilmunya, dan kesadaran dari umat untuk menjalankan dengan sebaik-baiknya. Wallahu a’lam.


Aksi

Information

3 responses

6 08 2008
sudhew

ha..ha..ha…sebenarnya sarung merupakan corak budaya asli indonesia,apakah di negara Islam lainnya juga mengenal sarung? silahkan dicari sendiri jawabannya

iya, sarung adalah corak budaya asli Indonesia. paling-paling di negara Islam lain adanya cuma sarung tangan n sarung pedang. mari kita lestarikan sarung dan gunakan dengan baik dan Indah. (saya aja tiap hari pake sarung…)

1 10 2008
Silo

Wah kalau yang dipakai orang itu saya tahu alasannya mas…
Kalau tidak salah dia kan pakai celana.. nah celana yang umum dipakai oleh kita orang Indonesia adalah celana yang tidak terlalu longgar.
Ketika dipakai sujud tentu pantat dan belahan pantat akan nyeplak jelas, padahal sudah jelas salah satu kesempurnaan berpakaian dalam islam adalah tidak menggambarkan bentuk tubuh. Makanya orang itu memakai sarung di luar celana agar menghindari nyeplak ketika sujud…
Ada juga yang agar tidak terlihat nyeplak maka orang itu pakai baju yang selutut panjangnya jadi pantat bisa tertutup waktu sujud…

Salam kenal

4 11 2008
madzz

salam kenal tukeran link yukk

salam kenal juga n trims dah mampir. tukeran link, Ok..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: