Ada Apa dengan Rokok?

14 08 2008

Sebuah berita singkat muncul di Newsticker salah satu TV swasta yang menyebutkan MUI sedang mempersiapkan Fatwa Haram terhadap rokok. Why? Ada apa dengan rokok?
Bisa dibayangkan ketika Fatwa tersebut benar-benar dikeluarkan, pastilah akan menimbulkan pro dan kontra yang hebat di kalangan masyarakat. Karena selama ini sang rokok berada dalam posisi ‘dilematis’.
Pihak yang kontra terhadap Fatwa tersebut, bisa jadi akan memunculkan pertanyaan dan pernyataan yang mendukung legalitas sang rokok.
“bukankah para kyai juga merokok? Padahal mereka lebih tahu masalah agama..”
“jika diharamkan, bagaimana dengan pabrik rokok? Apakah harus ditutup? Bagaimana pula dengan nasib ribuan buruh yang menggantungkan hidupnya pada pekerjaan tersebut. Di PHK? Lantas siapa yang memberi makan keluarganya? Bagaimana pula dengan para petani tembakau?siapa yang akan membeli tembakau mereka?”
“bukankah selama ini sang rokok telah menyumbangkan devisa yang besar bagi Negara melalui cukai?”
Sedangkan yang pro terhadap Fatwa, mungkin akan mencari cara untuk membackup argumen-argumen tersebut. Mulai dari ‘peringatan’ yang tertera pada bungkus rokok yang jelas-jelas menyebutkan merokok dapat menyebabkan penyakit ini dan itu, dengan didasarkan pada data-data kesehatan, entah dari WHO atau Dinkes, hingga mengutip dalil-dalil agama untuk mendukung keharaman sang rokok.
Mungkin, perdebatan mengenai masalah ini akan senasib dengan masalah RUU APP dan Fatwa Sesat Ahmadiyah.
Saya dan anda berada di pihak mana? PRO atau KONTRA?
Sebuah perjalanan dan pengalaman hidup telah menghantarkan saya untuk mengambil sikap terhadap sang rokok dan berbagai embel-embel masalahnya.
Pernah suatu ketika, dalam perjalanan pulang di sebuah Bus jurusan Malang-Jombang, sambil menunggu penuhnya penumpang, nampak laki-laki tua sedang menghisap sebatang rokok. Terlihat santai dan begitu menikmati setiap hembusan asap. Nampak pula disamping laki-laki itu, seorang remaja putri (mungkin mahasiswa) yang berkali-kali berusaha mencegah masuknya asap rokok kedalam lubang hidungnya. Wajahnya menunjukkan ekspresi ketidaknyamanan. Lelaki tua tersebut sebenarnya mengetahui bahwa asap rokoknya telah membuat orang lain tidak nyaman. Namun, hal itu tidak lantas membuatnya sadar untuk mematikan rokok. Malah ia berpindah ke dekat pintu, agar asapnya bisa keluar. Mungkin ia berpikir, eman-eman kalau tidak dihabiskan. Tetapi yang terjadi, asap itu tetap saja masuk ke dalam bus (ingat sifat udara..?). Kondisi inilah yang sering terjadi pada masyarakat kita. Merokok di tempat umum adalah sesuatu yang sudah ‘umum’.
Kita terkadang berpikir, bahwa yang dilakukan lelaki tua itu adalah sah-sah saja. Ia punya hak untuk melakukan apa saja yang ia inginkan. Namun, tidakkah kita berpikir bahwa remaja putri tersebut juga memiliki hak untuk menghirup udara yang bersih, yang bebas dari asap rokok? Toh, keduanya sama-sama membayar.
Bukankah jika merokok dapat menyebabkan penyakit ini dan itu, hal itu tidak hanya terjadi pada orang yang merokok, tetapi juga orang yang menghirup asap rokok (perokok pasif)? Mengenai masalah ini, saya teringat pesan Dokter Paru-paru di salah satu RS di Malang, yang meminta saya untuk menghindari orang merokok (asap rokok) karena pada waktu itu saya divonis terkena penyakit Bronchitis. Dengan kata lain, asap rokok dapat menyebabkan penyakit pernafasan dan mempengaruhi proses penyembuhan dari penyakit.
Pengalaman lain yang berkaitan dengan sang rokok terjadi saat seorang pemuda—yang sudah berkeluarga—membeli beras dan rokok di sebuah warung kecil di dekat tempat tinggal saya. Untuk beras, ia belum bisa membayar (ngutang dulu). Tetapi untuk sang rokok, ia mampu membayarnya. Padahal harga sang rokok lebih mahal dari beras. Bukankah beras lebih dibutuhkan oleh keluarganya (anak dan istri) dibandingkan rokok? Yah..mungkin dia mempunyai pemikiran lain.
Pengalaman-pengalaman tersebut yang membuat saya bertanya-tanya, apa yang sebenarnya mereka cari dari sebatang rokok? Kepuasankah, kenikmatankah, atau apa? Bukankah itu hanya kepulan-kepulan asap? Tidakkah sebaiknya uang digunakan untuk membeli hal lain yang lebih bermanfaat? Hanya sang perokoklah yang bisa menjawabnya, karena saya bukanlah seorang perokok. (jika anda seorang perokok, mohon jawabannya…). Kalaupun rokok sangatlah urgent, semoga ia tidak dipertuhankan sebagaimana termuat dalam ‘Tuhan Sembilan Senti’ milik Taufiq Ismail.
Lantas bagaimana dengan nasib pabrik rokok dan buruhnya, beserta para petani tembakau jika pengharaman rokok benar-benar dikeluarkan. Sudah saatnya pemerintah—termasuk kita—berfikir jauh kedepan, bukan berfikir untuk keuntungan sesaat. Karena sesungguhnya setiap masalah pasti ada solusinya, jika kita mau berfikir. If there’s a will, there’s a way. (kayak Rizal Malarangeng di TV aja ya..)
Anda punya SOLUSI? Tawarkan…..dan kita sama-sama berfikir..

Alangkah indahnya hidup tanpa menyakiti orang lain.
Alangkah indahnya hidup dengan menghargai hidup orang lain.
Alangkah indahnya hidup sehat tanpa asap rokok.


Aksi

Information

One response

24 10 2008
Ajaran

Indahnya tulisan anda, semoga semua muslim sejati mengimaninya..
Amin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: