Mendidik Tidaklah Mudah !!

14 11 2008

Catatan Perjalanan Program FCC-FORKIM

fccPrakata
Hampir 1 tahun lamanya, program FCC (FORKIM Cares to Children) telah dilaksanakan. Sebuah program pembinaan anak berbasis Islam yang dilaksanakan oleh teman-teman—termasuk saya—dari Forum Kajian Islam dan Masyarakat (FORKIM) FIA Unibraw ini mengambil daerah binaan di Jl. Muharto Gg.Vb RT.11 RW.08 Kelurahan Kotalama Kec. Kedungkandang, Kota Malang yang merupakan daerah kantong kemiskinan (Sekilas, nampak beberapa penduduk daerah tersebut bermata pencaharian sebagai pengumpul barang-barang bekas. Bahkan tak jarang yang berprofesi sebagai peminta-minta). Kondisi lingkungan yang serba ‘berkekurangan’ sangat berpengaruh terhadap proses ‘belajar’ anak yang notabene adalah pihak yang wajib mendapatkan pendidikan sebagai bentuk jaminan dari pemerintah kepada warganya, dan sebagai pihak yang wajib untuk mencari dan mendapatkan ilmu sejak lahir hingga matinya. Mereka (anak), karena lingkungannya, seolah-olah telah menjadi ‘korban’ ketidakarifan para pendahulunya yang cenderung meninggalkan nilai-nilai dari keyakinan turun-temurun, yaitu keyakinan sebagai penganut dienul Islam. Posisi mereka yang menjadi ‘korban’ telah menggelitik nurani sebagian dari kami untuk berbagi atas apa yang telah kami pelajari dan kita miliki selama ini.

Mendidik, tak semudah yang dibayangkan
Pembinaan yang menekankan pada pembelajaran Iqro’ dan akhlaq islami ini awalnya terlihat mudah. Hal ini nampak dari kuantitas dan kualitas para pengajar yang kebetulan adalah aktivis dakwah kampus. Namun, seiring berjalannya waktu, pandangan awal itu terasa mulai mengabur. Anak-anak sulit dikendalikan. Para pengajar banyak yang merasa kewalahan untuk tetap bertahan menghadapi ‘rewel’nya anak-anak. Di lain sisi, mereka juga memiliki agenda penting lainnya yang tidak dapat ditinggalkan. Sehingga, tinggal beberapa pengajar saja yang menangani pembinaan ini. Berbagai cara telah dilakukan agar anak-anak dapat terkendali. Dari bentakan yang membuatnya ‘lari’, hingga manjaan yang membuatnya ‘nglamak’. Pembahasan strategi terus dilakukan dalam syuro’-syuro’ terbatas. Walhasil, semuanya sia-sia. Mereka tetap saja ‘rewel’, tak bisa diatur.

100_99571
Agak keluar dari pembahasan di atas, sepertinya kondisi anak-anak tersebut mencerminkan bagaimana proses pembinaan keluarga dalam masyarakat kita. ‘rewel’nya sang anak, sulit diatur, dsb, seolah-olah menunjukkan kegagalan sang orang tua dalam mendidiknya. Begitupun pengaruh lingkungan luar sangat kuat, namun faktor orang tualah yang lebih berpengaruh. Orang tua memiliki ikatan kuat dengan sang anak yang tentunya berbeda bila dibandingkan dengan ikatan seorang anak dengan lingkungan luar. Kekuatan ikatan inilah yang sangat menentukan terbentuknya pribadi sang anak. Beberapa kegagalan dalam mendidik sang anak, bisa jadi disebabkan oleh cara yang digunakan. Tentunya, cara yang baik akan menghasilkan yang baik pula, begitu sebaliknya. Tapi terkadang, para orang tua banyak yang tidak paham bagaimana cara yang baik di dalam mendidik. Tak sedikit dari mereka yang meniru gaya orang tuanya saat dahulu kala mendidiknya. Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Begitu buah tumbuh menjadi pohon, buahnya pun jika jatuh tak akan jauh dari pohonnya, kecuali ada yang menendang, dan semacamnya.
Kembali ke pembahasan awal, saya pun berkali-kali merenung. “Ternyata mendidik anak tidaklah mudah..!!” (gitu kok sudah pengen nikah, halaah..). Formula apa yang harus saya kembangkan untuk memberangus masalah ini, untuk menghadapi rewelnya mereka. Mungkin, di samping sebagai pengajar, kami harus memposisikan diri sebagai orang tua bagi mereka. Orang tua yang tidak sekedar memiliki kedekatan fisik, namun juga kedekatan hati. Mungkin, selama ini hati kami kurang peka terhadap apa yang mereka rasakan dan inginkan. Mungkin……itu formulanya…
Intinya, kita dituntut untuk mendidik dengan hati, hati yang ikhlas, hati yang bersih, hati yang penuh cinta, yang melahirkan baik sangka dan kasih sayang..(bagaimana pendapat anda?)
Terakhir, mengutip Dorothy Law Nolte dalam KH. Toto Tasmara (2002), Membudayakan Etos Kerja Islami yang menyebutkan sebagai berikut:

Jika anak dibesarkan dengan celaan
Ia belajar memarahi
Jika anak dibesarkan dengan permusuhan
Ia belajar berkelahi
Jika anak dibesarkan dengan cemoohan
Ia belajar rendah diri
Jika anak dibesarkan dengan penghinaan
Ia belajar meragukan diri
Jika anak dibesarkan dengan toleransi
Ia belajar menahan diri
Jika anak dibesarkan dengan dorongan
Ia belajar percaya diri
Jika anak dibesarkan dengan celaan
Ia belajar memarahi
Jika anak dibesarkan dengan pujian
Ia belajar menghargai
Jika anak dibesarkan dengan dukungan
Ia belajar untuk menyenangi diri
Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatn
Ia belajar menemukan cinta dalam kehidupannya


Aksi

Information

6 responses

11 12 2008
madzz

halooo kok jarang mampir napa

11 12 2008
madzz

aq comeni lagi nihhh

11 12 2008
yudhyth

ha ha salam kenal….tukeran link yukkk

11 12 2008
info-musik

mau musik klik aja di sini

12 12 2008
madzz

iya mas gw anak ngalam!!!mas juga anak malang ta!!

bukan, tapi lagi kul di malang..

13 02 2009
IRUL

belajar hidup nabi kita. Bayangkan posisi kita skrg adlh anak2 FCC dan Nabi adalh pendidik (jika skrg 4kimers).ba
tentu jika beliau merasa letih dan menyerah pasti gak akan pernah ada generasi2 hebat kayak saat ini (baca anis matta, asma nadia, ari ginanjar, bahkan antum).
so………………………………….
buat teman2 yang aktif di fcc jangan pernah merasa capek ato bosan ato lari cari hiburan dg meninggalkan fcc.
hammasah.
senyum mereka, kenakalan, bahkan tangis mereka adalh pahala kita.

afwan cuma commen tp g pernah bantu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: