Lagi-lagi Tentang Rokok

26 01 2009

rokok2Setelah menjalani persidangan yang alot, akhirnya Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa terkait rokok, sebagaimana dikutip okezone.com. Secara umum MUI memfatwa, rokok makruh hukumnya.
Hukum makruh dalam pengertian, akan mendapatkan pahala jika ditinggalkan, tidak berdosa jika dilakukan. Sementara di sisi lain MUI jaga memfatawakan rokok haram dilakukan untuk anak-anak, wanita hamil, ulama MUI dan merokok di tempat-tempat umum.
Menurut Ketua MUI Pusat, Ma’ruf Amin, keputusan ini dikeluarkan setelah sidang pleno Ijtima Ulama Komisi Fatwa MUI se-Indonesia III di aula Perguruan Diniyyah Puteri, Kota Padang Panjang, Sumatera Barat, Minggu (25/1/2009).
Amin menambahkan fatwa merokok dapat kembali lagi dibahas dalam Ijtima Komisi Fatwa MUI yang bakal digelar dua tahun lagi. “Tidak ada fatwa yang abadi, fatwa bisa berubah sama halnya dengan UUD, yang bisa diamandemen,” tegasnya.

Penolakan Atas Dasar Faktor Sosial-Ekonomi
Kita masih ingat, beberapa bulan yang lalu, gagasan untuk memunculkan fatwa haram rokok yang dikemukakan oleh Seto Mulyadi, ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak, yang selanjutnya dibahas oleh MUI, telah mampu memunculkan sikap pro dan kontra di kalangan masyarakat. Anehnya, yang paling keras bersuara menolak (kontra), adalah kalangan pesantren yang dimotori oleh para ulama’nya. Sebut saja KH. Nur Iskandar, Pimpinan Pondok Pesantren Ash-shiddiqiyyah, Jakarta, sebagaimana dikutip Suara Hidayatullah(1). Menurutnya, MUI lebih baik memberi prioritas pada fatwa soal haramnya minuman keras (khamr), prostitusi, dan korupsi, ketimbang mengeluarkan fatwa haram soal rokok. ”masalah seperti itu kan sudah jelas nashnya. Kalau fatwa rokok itu nanti-nanti sajalah,” kata Nur Iskandar.
Umumnya, penolakan fatwa haram itu meninjau dari sosial-ekonomi. Bahkan menurut pengasuh Ponpes Tebuireng, Jombang, KH. Sholahuddin Wahid (Gus Sholah) sebagaimana dikutip NU Online (Jumat, 15 Agustus 2008 ), bahwa fatwa haram atas rokok itu akan lebih banyak mendatangkan mudharat dari pada manfaatnya. Jika rokok diharamkan berarti perusahaan rokok akan tutup dan ini berarti nasib ribuan pekerja pada perusahaan tersebut akan terlantar.
Benarkah mudharat tersebut benar-benar akan terjadi jika rokok diharamkan?
Abdillah Hasan sebagaimana dikutip Suara Hidayatullah(2), menyebutkan bahwa pada tahun 2003, setoran industri rokok dan tembakau ke kantong negara hanya 1,1 persen dari keseluruhan sektor penyumbang devisa negara. Daya serap tenaga kerja sektor ini juga serupa, 1 persen. Lebih lanjut, Abdillah menyebutkan bahwa konsumsi rokok sangat berakibat parah bagi ekonomi masyarakat miskin. Dari 25 daftar kebutuhan rumah tangga umum, biaya untuk rokok menempati posisi kedua setelah padi-padian. Rata-rata keluarga miskin mengeluarkan 12 persen pendapatan bulanannya untuk rokok. Hal ini 6 kali lebih besar dari alokasi biaya pendidikan yang cuma 2 persen, biaya untuk membeli ikan 6,89 persen, susu dan telur 2,34 persen, dan daging 0,85 persen. Apakah hasil penelitian ini benar? Anggap saja benar. Jika kita berangkat dari pikiran positif, maka diharapkan akan menghasilkan hal yang positif pula.
Selanjutnya, yang perlu diwaspadai adalah adanya makar dari industri rokok. Bentuk akar ini dapat ditelusuri dalam dokumen-dokumen rahasia industri rokok di http://legacy.library.ucsf.edu atau http://bat.library.ucsf.edu

Menunggu Sikap Bijak Ulama’ NU
Jika fatwa haram rokok benar-benar dikeluarkan oleh MUI sebagai representasi dari para rokok2ulama’, maka tidak serta merta umat Islam di negeri ini akan mengikuti fatwa tersebut. Pasalnya, penolakan fatwa haram tersebut muncul dari kalangan pesantren, yang dimotori oleh para ulama’nya (baca: kyai) sebagaimana telah disebutkan di atas. Sedangkan mereka (kyai) umumnya adalah ulama’ dari Nahdlatul Ulama’, sebuah organisasi sosial-religi terbesar di Indonesia, yang sejak dulu telah menentukan hukum rokok, yaitu makruh. Meskipun tidak semua kyai NU menolak fatwa tersebut, namun, hal ini perlu dilakukan pembahasan khusus (bahtsul masa’il) untuk memberikan penjelasan kepada umat. Pembahasan tersebut diharapkan tidak berhenti pada hukum makruh atau makruh tahrim semata, melainkan lebih dari itu. Jika ulama’ NU tetap bersikukuh dengan hukum makruh atau setidaknya makruh tahrim, yang selanjutnya difikirkan adalah bagaimana pembahasan para ulama’ tersebut mampu mengakomodir kepentingan dan keinginan umat (warga NU) yang tentunya tidak semua setuju akan rokok. Dengan kata lain, bagaimana ulama’ NU dapat mengambil sikap bijak untuk memberikan kesempatan bagi para warga NU yang tidak merokok untuk hidup sehat di tengah-tengah warga NU yang suka merokok. Dan tentunya sikap tersebut tidak mengesampingkan kepentingan warga NU lain yang masih suka merokok dan menanam tembakau untuk menyambung hidupnya. Inilah sikap bijak yang seharusnya muncul dari diri para ulama’, bukan penolakan atas dasar logika yang ditunggangi nafsu pribadi, untuk tetap memakruhkan (baca: memperbolehkan) merokok, karena dirinya ternyata juga suka merokok. Padahal dalam fiqih, makruh pun dibenci oleh Allah. Bukankah makruh artinya “sesuatu yang dibenci”?
Terakhir, ada ungkapan dari Imam Syafi’i yang patut kita renungkan, bahwasannya “pesona para ulama’ adalah jiwa yang mulia dan sebagai penghias pengetahuan yang dimilikinya adalah: wara’ (menjauhkan diri dari sesuatu yang belum jelas) dan berlaku bijak”.
In uriidu illalishlaha mastatho’tu, wamattaufiqii illa billah, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi uniib. Wallahu a’lamu bishshawab.

(1) Lihat Majalah Suara Hidayatullah Edisi 06 Oktober 2008 hal. 37 (2) ibid. hal.41


Aksi

Information

One response

24 03 2009
yudhtyh

eang penting saya enggag merokok,, titik.

beres kan??

salam kenal ja ea,, hehehe…..,,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: