Si Fulan dan ‘Amplop’ PEMILU

25 03 2009

images2Menjelang dilaksanakannya PEMILU 2009, tiba-tiba si Fulan teringat dengan masa lalunya, saat di kampung diadakan pemilihan kepala desa. Yang ia ingat bukanlah wajah dari calon-calon yang bersaing, sebagaimana banyaknya wajah para calon wakil rakyat yang terpampang di pinggir jalan saat ini. Melainkan ia ingat akan ‘amplop’ yang pernah diberikan oleh salah satu calon kepada orang tuanya sebagai wujud permohonan doa restu (baca: dukungan). ‘Amplop’ yang diterima sebanyak empat buah, untuk si Fulan, kakaknya dan untuk kedua orang tuanya. Namun, ayah si Fulan menyimpan keempat ‘amplop’ tersebut ke dalam almari. Sang ayah menyatakan bahwa ‘amplop’ tersebut tidak akan dipergunakan untuk kepentingan pribadi, melainkan untuk disumbangkan. Alasannya, pemberian tersebut bagian dari ‘suap’, agar si penerima memilih calon yang memberi. Walaupun sang ayah tidak menyatakan bahwa itu adalah ‘haram’, namun perlu ada kehati-hatian diri terhadap hal-hal yang semacam itu. Berupaya menolak pun, rasa-rasanya sungkan. Akhirnya, itulah yang diputuskan sang ayah.

Saat ini, menjelang PEMILU 2009, tidak hanya beberapa calon yang bersaing memperebutkan kursi, melainkan ribuan. Banyak cara yang mereka gunakan untuk menarik simpati pemilih. Ada yang bersih dan ada pula yang kotor. Termasuk membagi ‘amplop’ dalam berbagai variannya.

Si Fulan pun bingung dan ragu melihat maraknya pembagian ‘amplop’. Apa yang harus ia lakukan jika ada yang memberinya ‘amplop’? apa benar ini bagian dari ‘suap’ sebagaimana yang dinyatakan oleh sang ayah?

Sangat dilematis, di saat pemberian merupakan sesuatu yang diharapkan olehnya dan oleh orang-orang kecil di sekitarnya. Orang-orang yang masih begitu membutuhkan uluran tangan dari ‘si punya’. Sedangkan hati si Fulan tetap saja merasa tak enak menerima pemberian itu. “Jangan, jangan…..” ragunya dalam hati.

Ah, anggap saja yang memberi berniat baik, ingin menolong kita” ada bisikan yang berupaya membenarkan.

Tetapi kenapa hanya saat menjelang PEMILU saja? Bukankah itu untuk mencari dukungan?” si Fulan tetap saja ragu dan enggan menerima pembenaran itu.

Memang, kita tidak patut untuk menilai niatan hati seseorang. Tetapi, dalam konteks PEMILU seperti sekarang ini, tidak ada salahnya jika kita mengatakan bahwa…..” ia terdiam.

Ah, su’udzon ini..” si Fulan pun tersadar. Ia tetap saja bingung dan ragu.

Ia bingung dan ragu karena ia berusaha menimbang benar dan salah, baik dan buruk, terhadap suatu hal yang sedang ia hadapi. Lebih khusus, sebuah pertimbangan yang dimuarakan pada dalil-dalil dalam agamanya, al-Islam.

Namun, si Fulan bukanlah pemuda yang pandai dan menguasai banyak dalil. Ia tidak pernah merasakan ngaji di sebuah pesantren. Atau bahkan talaqqi kepada seorang ulama’. Ta’lim di masjid saja, hanya beberapa kali ia ikuti. Tak heran, jika ia bingung dan ragu dalam masalah ini. Ia pernah membuka kitab Halal wa Haram Fil Islam-nya Yusuf Qardhawi, namun ia tetap saja tidak menemukan jawaban atas masalahnya.

Akhirnya, ia pun merujuk pada sikap sang ayah untuk berhati-hati terhadap masalah ‘amplop’ ini. Ia teringat pula perkataan salah seorang Ustadz, Istafti Qolbaka, mintalah fatwa kepada hatimu! Perintah itu yang kemudian ia laksankan. Fatwa yang tentunya sangat sederhana dan tidak mengandung banyak resiko. Sangat berbeda dampaknya dengan fatwa MUI.

Berangkat dari keraguan hatinya, ia pun menganggap masalah ‘amplop’ adalah sesuatu yang meragukan. Ia tidak lantas menghalalkan pemberian ‘amplop’ tersebut, karena hatinya masih sulit untuk menerima. Ia juga tidak mengharamkan pemberian tersebut, karena ia belum menemukan dalil-dalil yang kuat yang khusus membahas masalah ‘amplop’. Mungkin ini lebih mendekati aman.

Jika demikian adanya, maka si Fulan memutuskan untuk meninggalkan sesuatu yang ‘meragukan’ itu, seraya mengingat pesan Muhammad sang Rasul, da’ mā yarībuka ila mā lā yarībuka. Inilah keputusan akhir si Fulan. Ia serahkan keputusan itu kepada Rabbnya yang Maha Tahu. Ia berharap pula akan datangnya hidayah tentang masalah ini. Ataukah keputusan itu adalah bagian dari hidayah Allah?

Wallahu a’lam bish-showab

Wassalamu ‘ala manittaba’al huda.


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: