Mendebukan Telapak Kaki Sesaat

11 07 2009

images

Oleh: Dr. Aidh bin Abdullah Al-Qarni

Ketika Usamah bin Zaid bersiap-siap untuk keluardi jalan Allah bersama pasukannya sesudah Rasulullah wafat, keberangkatannya dilepas oleh khalifah pertama, Abu Bakar ash-Shidiq r.a.

Usamah menaiki hewan kendaraannya, sedang Abu Bakar berjalan kaki. Usamah pun berniat akan turun dari kendaraannya agar khalifahlah yang mengendarainya. Tetapi, Ash-Shidiq berkata: “Jangan turun! Demi Allah, aku tidak mau naik. Apalah salahnya aku jika mendebukan telapak kakiku sesaat di jalan Allah.”

Aku dan anda berhenti untuk merenungkan kalimat ini seraya bertanya-tanya: bagaimanakah pendapat anda, apakah hanya saat itu Ash-Shidiq mula-mula mendebukan telapak kakinya? Bukankah ia pernah mendebukannya, bahkan sering sekali? Bukankah dia telah mendebukan telapak kakinya di Makkah saat penolong Islam sedikit, hubungan kekerabatan menegang, kenalan menjadi tidak mau kenal, dan banyak pihak yang merasa senang dengan penderitaan Islam?

Bukankah dia pernah mendebukan telapak kakinya dalam peperangan Badar, saat kematian merayap, kekafiran mendidih, dan arwah orang-orang mukmin beterbangan ke surge yang luasnya sama dengan langit dan bumi? Bukankah ia pernah mendebukan telapak kakinya di medan peperangan Uhud, saat kedua barisan pasukan berhadapan dan banyak pedang yang patah di kepala para pahlawan, dan perang tanding mulai memuncak serta ketakutan mulai terlihat jelas?

Bukankah dia pernah mendebukan telapak kakinya saat ia mengarungi padang sahara Jazirah Arabia menuju ke medan Tabuk, sedang rasa lapar memenuhi perutnya, rasa haus mencekik lehernya, panasnya matahari yang terik terasa sampai ke semua pori-pori tubuhnya, dan debu memenuhi kedua lubang hidungnya?

Bukankah dia pernah mendebukan telapak kakinya saat berangkat berpagi hari dan berpetang hari, menguak kegelapan cuaca pagi hari buta menuju ke shalat berjama’ah, dan begitu pula saat menuju ke shalat Jum’ah?

Inilah yang telah dilakukan oleh Abu Bakar Ash-Shidiq r.a. lalu bagaimana dengan kita? Apakah yang telah kita lakukan? Bilakah kita mendebukan telapak kaki kita? Bilakah kita berjihad? Di mana kita melakukan peperangan dan di mana pengorbanan kita?

Biarkanlah pujian kepada Ash-Shidiq

menguak kegelapan malam

dan biarkanlah semua sebutan diukir untuknya

di urutan yang tertinggi

Dikutip dari buku Cambuk Hati karangan Dr. Aidh bin Abdullah Al-Qarni. Judul asli, Siyaathul Quluub. Edisi Indonesia diterjemahkan oleh Bahrun Abu Bakar Ihsan Zubaidi, Lc dan diterbitkan oleh penerbit Irsyad Baitus Salam, Juli 2004.


Aksi

Information

2 responses

15 08 2009
hulucky van debog

wuiizt… !

keren choi.. !

mug02 iso d rekrot produser film.. nk0. !

27 10 2009
Najwa Zuhur

Mantab….
Dimanapun kita ditempatkan, maka disitu area jihad kita.
Ni tulisan bulan Juli, belum da yang baru lagi kah??

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: