Le Grand Voyage: Perjalanan Menemukan Kemurnian Diri

20 11 2009

Saat ini, jutaan umat Islam dari seluruh penjuru dunia berbondong-bondong melakukan perjalanan menuju Kota Suci Mekkah untuk melaksanakan ibadah haji yang merupakan salah satu kewajiban bagi umat Islam yang telah memiliki kemampuan untuk melaksanakannya. Musim haji penuh berkah ini mengingatkan penulis pada salah satu film asal Prancis garapan Ismael Ferroukhi yang telah dirilis pada tahun 2004 silam. Adalah Le Grand Voyage (Ar-rihlatul Kubro), sebuah film yang menceritakan perjalanan seorang ayah ditemani anaknya mengendarai mobil dari Prancis hingga Mekkah guna menjalankan misi suci ibadah haji.

Film ini sebenarnya lebih menonjolkan hubungan sang ayah dengan anak yang kerapkali mengalami perselisihan selama perjalanan. Perselisihan terjadi karena keduanya memiliki karakter yang berbeda. Sang ayah (diperankan Mohamed Majd) adalah seorang imigran Maroko yang masih memegang kukuh budaya Arab dan Islam. Sementara Reda (diperankan Nicolas Cazale) adalah generasi kedua imigran yang sudah kebarat-baratan, ia bahkan tak pernah shalat dan memacari seorang gadis Prancis nonmuslim. Namun, dalam bingkai budaya Arab yang kental, sang ayah tetaplah figur dominan.

Reda sebenarnya merasa terpaksa untuk mendampingi sang ayah melakukan perjalanan haji tersebut. Kala itu Reda akan menggondol gelar sarjana dan tengah di mabuk cinta. Tetapi, ia diminta menyupiri ayahnya naik haji ke Makkah, menyusuri rute sejauh lima ribu kilometer dari Prancis selatan di atas mobil minivan Peugeot yang bobrok. Melintaslah mereka ke Italia, Slovenia, Kroasia, Serbia, dan Bulgaria. Menyeberang ke Turki, Suriah, Yordania, hingga Arab Saudi. Keterpaksaan dan perbedaan memunculkan pertikaian kecil sepanjang jalan.

Ada satu pesan menarik dalam film ini, saat keduanya berlindung dari empasan badai salju, tepatnya di sebuah trotoar di Bulgaria, dan mobil mereka sedang mogok. Reda melontarkan sebuah pertanyaan, ”Mengapa Ayah tidak naik pesawat terbang saja ke Makkah? Ini akan lebih mudah.” Sang ayah terdiam sejenak. ”Air laut baru akan kehilangan rasa pahitnya setelah ia menguap ke langit,” jawabnya. ”Apa?” ”Ya, begitulah air laut menemui kemurniannya. Ia harus mengangkasa melewati awan. Inilah mengapa lebih baik naik haji berjalan kaki ketimbang naik kuda. Lebih baik naik kuda ketimbang naik mobil. Lebih baik naik mobil ketimbang naik perahu.” Sebuah jawaban yang tentu saja tak mudah dicerna oleh rasio awam yang matematis. Jawaban yang agaknya lebih bisa dicerna oleh hati yang khusyuk. Tafsirnya adalah semakin sulit perjalanan menuju Makkah, menurut sang ayah, maka semakin kita memurnikan jiwa kita –seperti halnya perjalanan air laut yang mengangkasa. Hanya dengan cara itulah, ia menemukan kemurniannya kembali.

Pertikaian keduanya pun terus berlanjut hingga perjalanan berakhir di Mekkah. Suatu waktu, sang ayah sekonyong-konyong menarik rem tangan hingga kendaraan yang mereka tumpangi nyaris terguling. Ini semata-mata lantaran Reda menolak meminggirkan mobilnya di jalan tol. Di Suriah, pertengkaran memuncak. Reda pergi meninggalkan ayahnya sendirian di gurun pasir setelah sang ayah memberikan duitnya pada seorang janda tua. Padahal duit mereka nyaris ludes usai ditipu orang Turki bernama Mustafa (diperankan Jacky Nercessian). Reda merasa marah dan jengkel terhadap keputusan-keputusan tak logis dari sang ayah yang keras kepala. Anehnya mereka tetap bersatu.

Keduanya pun tiba di Mekkah, dan sang ayah mulai bersiap menjalankan ibadah haji. Sebelum mengikuti talbiyah untuk umrah haji tamattu’, sang ayah sempat bercerita, “Ketika saya kecil, Allah mengambil ruh Kakekmu di punuk kuda. Dia adalah lelaki yang berani. Setiap hari, saya mendaki bukit sehingga dapat melihat horizon. Saya ingin menjadi yang pertama melihatnya pulang.” Sang ayah lantas bergegas mengikuti rombongan jama’ah haji yang lain dengan melantunkan talbiyah. Saat itu Reda berkata pada ayahnya, “saya tunggu di sini saja ya..” perkataan Reda tak didengar sang ayah. Ia sudah fokus untuk menyerahkan dirinya pada Allah.

Saat sore menjelang, Reda menunggu sang ayah kembali dari Baitulloh. Hampir semua jama’ah sudah kembali, namun dia tidak melihat bapaknya. Lantas dia bergegas mencari keberadaan ayahnya. Hingga pada akhirnya ia menemukan sang ayah sudah terbujur kaku di ruang jenazah, seperti air laut yang menguap, sang ayah menemui kemurniannya kembali di Baitullah. Ia wafat di situ. Reda menangis sejadi-jadinya di depan jasad sang ayah. Betapa menyakitkan. Reda baru saja mengenal dan menemukan ayahnya lewat perjalanan jauh ini, tetapi mesti kehilangan sosok sang ayah dalam sekali waktu.

Film ini mengajarkan banyak hal, tentang kasih sayang seorang ayah kepada anaknya, meskipun sang ayah terlihat sangat keras kepala; tentang sebuah perjalanan besar menemukan kemurnian diri, meski menemui banyak rintangan menghadang. Perjalanan besar itu telah mampu menghijrahkan Reda dari keburukan menuju kebaikan, menyadarkan dirinya bahwa apa yang dilakukan sang ayah adalah benar meskipun baginya sangat menjengkelkan. Dan akhirnya ia memutuskan untuk meninggalkan Mekkah kembali ke Prancis, dengan tak lupa memberi sedekah pengemis di pinggir jalan, meneladani perilaku sang ayah, sebagai bagian dari proses menemukan kemurnian diri, bak air laut yang menguap mengangkasa mencapai kemurniannya.

(dikutip dari berbagai sumber)

sumber image: khatulistiwa.net/…/2321/le-grand-voyage.html

lihat trailler film: http://www.youtube.com/watch?v=mDIu4mjXKTg


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: