Kesederhanaan Cinta

10 01 2010

Tidak sedikit di antara manusia, ketika hatinya dilanda cinta, cinta kepada lawan jenisnya, selalu memposisikan cinta dan orang yang dicintainya pada tempat istimewa. Perasaan jiwanya menggelora, menggebu-gebu, seolah relung jiwanya dipenuhi ‘minyak’ cinta yang disulut ‘api’ asmara, lantas ‘membakar’ diri, dibakar api cinta. Atau seolah ia telah meneguk beberapa gelas ‘anggur’ cinta, lantas tak sadarkan diri dengan apa yang ada disekitarnya, dimabuk cinta. “..wa tarannasa sukara, wa ma hum bisukara,..dan kamu melihat manusia dalam keadaan mabuk, padahal mereka tidak mabuk.” Akan tetapi karena cinta yang memabukkannya.

Seperti pula kata Ibnu Hazem—dalam Serial Cinta Anis Matta—ketika menyindir orang yang sedang dilanda cinta, “ruh seketika menjadi ringan dan lembut, badan seketika jadi wangi, senyum seketika mengembang lebar, benci dan dendam dan angkara murka seketika lenyap dari ruang hati, dan tiba-tiba saja yang bukan penyair jadi penyair, yang tidak bisa bernyanyi jadi penyanyi.” Sungguh, cintanya sudah keterlaluan, terlalu cinta.

Ada pula fenomena lain, ketika manusia mencapai titik kulminasi cintanya, ia tiba-tiba berbalik menjadi bosan dengan cinta dan orang yang dicintainya. Ia tiba-tiba membenci orang yang selama ini dipujanya. Hatinya seolah membeku layaknya es, dingin membisu; mengeras seperti batu tak berair, bahkan batu pun sebenarnya masih dapat mengeluarkan air, “..ada yang mengalir sungai-sungai dari padanya, ..ada yang terbelah lalu keluarlah mata air.” (QS Al-Baqarah: 74); kasar seolah tak pernah mendapat sentuhan kelembutan. Kata-kata benci keluar dari mulutnya yang dulu pernah bermain kata cinta. Sungguh, bencinya sudah keterlaluan, terlalu benci.

Memang benar, cinta adalah fitrah manusia. Allah menjadikan indah pada pandangan manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini (hubbus syahawat), salah satunya kepada wanita-wanita. (QS. Ali Imran: 14). Cinta yang demikian, sungguh efeknya luar biasa dahsyat, mampu memberikan energi positif pada diri seseorang. Namun, tidak jarang sebaliknya, menjerumuskan orang pada jurang kelalaian lantas kehancuran.

Ibnu Qayyim al-Jauziyah dalam bukunya Raudhah al-Muhibbin wa Nuzhah al-Musytaqin pernah berkomentar tentang pengaruh cinta pada diri seseorang, “Cinta itu bisa menyucikan akal, mengenyahkan kekhawatiran, mendorong untuk berpakaian rapi, makan yang baik-baik, memelihara akhlak yang mulia, membangkitkan semangat, mengenakan wewangian, memperhatikan pergaulan yang baik, serta menjaga adab dan kepribadian.” Itulah ketika cinta telah mempengaruhi diri seseorang, pengaruhnya bisa positif. “Tapi cinta juga merupakan ujian bagi orang-orang yang shaleh dan cobaan bagi yang ahli ibadah.” Demikian Ibnu Qayyim melanjutkan komentarnya, dengan sedikit penekanan. Cinta menjadi ujian berat, apalagi bagi mereka yang cintanya keterlaluan, terlalu cinta. Melalaikan lantas menghancurkan.

Itulah fenomena cinta nafsu, hubbus syahawat, ada yang menyenangkan lantas melalaikan dan menghancurkan; ada juga yang menyenangkan lantas mengerikan karena rasa cinta berubah menjadi rasa benci. Entah mengapa bisa demikian, yang pasti Muhammad Rasulullah, pernah mengingatkan kita tentang cinta dan mencintai. “Cintailah kekasihmu dengan sederhana, boleh jadi engkau akan membencinya pada suatu ketika; dan bencilah orang yang engkau benci dengan sederhana,boleh jadi engkau akan mengasihaninya pada suatu ketika” (HR. Tirmidzi). Ungkapan sederhana yang menyiratkan makna kesederhanaan, kesederhanaan cinta. Cintailah seseorang dengan sederhana; tak perlu keterlaluan, terlalu cinta, nanti bisa melalaikan dan menghancurkan; sekali lagi tak perlu terlalu cinta, mungkin suatu saat bisa menjadi benci, terlalu benci.

Mencintai seseorang dengan sederhana bukan hanya pada wujudnya, tapi juga pada sebabnya. Sebab yang sederhana, hanya karena Allah, sederhana bukan?
Mencintai dengan cara sederhana, berarti tidak terlalu dibuai pesona fisik semata, akan tetapi mengutamakan apa yang ada di dalam hatinya.
Mencintai dengan cara sederhana, berarti harus siap jika tidak mendapatkan orang yang dicintainya. Di sini berlaku kaidah cinta tak harus memiliki.
Mencintai dengan cara sederhana, berarti tak ada kekhawatiran jika sewaktu-waktu yang dicintainya berpisah dengannya. Yang ada hanya kekhawatiran jika sebab cintanya menghilang dari hati. Ada kerelaan, keridhoan, dan juga keikhlasan.
Itulah kesederhanaan cinta kepada seseorang, karena Allah. Sangat sederhana.
Lantas adakah cinta yang wujudnya tidak sederhana, cinta yang amat sangat, cinta yang luar biasa? Kepada siapakah cinta itu ditujukan? Ada tentunya, cinta yang amat sangat (asyaddu hubban), cinta kepada Allah, syarat bagi orang-orang mukmin (QS. Al-Baqarah: 165). “Allah mencintai mereka dan mereka mencintai-Nya.” (QS. Al-Maidah: 54). Dan sekali lagi, cinta kepada manusia itu sederhana saja, tak perlu keterlaluan.

Jika Sapardi Djoko Damono dalam puisi “Aku Ingin..” mengatakan:

Aku Ingin
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Dengan kata yang tak sempat diucapkan
Kayu kepada api yang menjadikannya abu
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
Awan kepada hujan yang menjadikannya tiada.

Maka aku pun juga mengatakan:

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Dengan makna yang tak sempat disiratkan
Embun kepada matahari yang menjadikannya sirna

Sederhana bukan?

Malang, 10 Januari 2010 Pk. 00.14 WIB

Irfan Andi

-Salam Setetes Embun-


Aksi

Information

6 responses

28 01 2010
Najwa Zuhur A

Assalamu’alaikum warohmatuALLAH wabarokah.

SubhanaALLAH, rajutan yang menawan. Literatur dan penekanan titik sentuh tersaji cantik. Terus berkarya ’setetes embun’. Kesederhananaan yang memperkaya hati. Jadi semangat nge-Blog lagi.

_EMBUN*_
Lihatlah embun. Lihatlah beningnya. Lihatlah manjanya bergelayut di ujung daun dan, Lihatlah keikhlasannya pergi saat mentari datang …
Ah embun, saya akan belajar darimu untuk menjadi lembut, untuk menyejukan dan untuk pergi jika mentari datang dan mengusirmu …[*kutipan]

13 02 2010
ava falcon's

i like it* uleh gabung ga..

17 02 2010
erfandi

@Najwa Zuhur
Wa’alaikumussalam warahmatullohi wa barakatuh
alhamdulillah.. syuwun..
jd inget ucapan blogger dr bandung, “ikatlah ilmu dg mnge-blogkannya” hee..

@Ava falcon’s
i like u*
uleh gabung kok..

17 02 2011
rohimah

asslmkm..
makaci yaah
mudah”n saia bs..he

13 10 2011
Shammi Almaya

kucintai dirimu dengan sederhana, dengan semua rasa yang ada…..walau kutahu ku tak dapat memilikimu……

12 04 2012
Agustina SheStar

Cinta itu adalah kesederhanaan, ketulusan dan keikhlasan, dgn imbalan mengharap ridho dan cinta yg haqiqi dari-Nya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: