Pengorbanan Demi Meraih Ridho Allah

17 01 2010

Oleh: Dr. Aidh bin Abdullah Al-Qarni

Orang-orang yang besar rela dikorbankan di jalan Allah Yang Mahabesar, karena mereka telah menjual dirinya secara tunai dan menerima pembayaran arwahnya di majelis transaksi atas dasar perjanjian. “Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri mereka.” (QS.At-Taubah (9): 111) Adapun orang-orang yang merugi, maka jiwa mereka dicabut dengan paksa. Mereka tidak mau melakukan pengorbanan karena imbalannya itu ditangguhkan dan transaksinya tanpa saksi. Tertuliskan di dalamnya: “Biarkanlah mereka (di dunia ini) makan dan bersenang-senang dan dilalaikan oleh angan-angan (kosong), maka kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatan mereka).” (QS.Al-Hijr (15): 3)

Adapun ‘Umar bin Khaththab alias Abu Hafs, penghulu para syaikh dan pujaan hati para pemuda, kedatangan kematiannya saat shalat Shubuh, agar bertambah besar pahalanya dan memulai harinya di surga seiring dengan hembusan angin pagi hari, dan agar ia bersiap-siap menerima sambutan penghormatannya sesudah siang hari. Kematiannya datang melalui ujung pisau belati, maka memancarlah darahnya mengukir kalimah laa ilaaha illallooh. Darahnya mengalir membasahi mihrab masjid, menebarkan bau harum bak kesturi, dan menetes bagaikan cairan emas.

Alangkah baiknya engkau
Tiap tetes air mata orang muslim
Menghormati darahmu di malam mihrab
Tiada mata sesudah matamu di waktu Dhuha
Melainkan terbelalak kaget, kemudian menangis

Al-Faruq melakukan hajinya, lalu ia berdo’a di Abthah: “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu mati syahid di jalan-Mu dan dikebumikan di negeri Rasul-Mu.” Allah pun memperkenankan do’anya dan dirinya dikorbankan demi meraih keridhaan-Nya.

Alangkah indahnya kematian di antara mimbar dan Raudhah. Dia mengumandangkan bacan Al-Qur’an dalam shalatnya, kemudian terdiam dan maut datang merobek kulitnya, lalu istrinya menangisinya. Kebahagian Islam dikafankan di dalam kain kafannya dan keadilan agama Islam ini ikut serta dibawa olehnya bersama kapur barusnya.

Wahai pemilik cemeti yang mengusir rasa kantuk dari mata para pengkhianat yang melanggar janji!
Wahai pemilik baju yang tambal-sulam, yang dunia ini menjadi tiada harganya di mata orang-orang yang ahli ibadah!
Wahai pemilik suara keras yang menakutkan orang-orang yang membangkang!

Demi Allah, sesungguhnya engkau menjadi karangan bunga yang dikalungkan di leher keadilan dan menjadi bukti yang diriwayatkan di majelis-majelis pengajian malam bagi para pionir keberanian dan kepahlawanan.

Siapa lagi yang menjadi pusat perhatian pandangan mata dan menjadi pujaan hati
Dia kini menjadi tubuh yang dibalut oleh kain kafannya
Semoga rahmat Allah dilimpahkan kepada jasad tersebut

“Dan Dia memberi balasan kepada mereka karena kesabaran mereka (dengan) surga dan (pakaian) sutra. Di dalamnya mereka duduk bertelekan di atas dipan. Mereka tidak merasakan di dalamnya (teriknya) matahari dan tidak pula dingin yang bersengatan.” (QS.Al-Insaan (76): 12-13).

Dikutip dari buku Cambuk Hati karangan Dr. Aidh bin Abdullah Al-Qarni. Judul asli, Siyaathul Quluub. Edisi Indonesia diterjemahkan oleh Bahrun Abu Bakar Ihsan Zubaidi, Lc dan diterbitkan oleh penerbit Irsyad Baitus Salam, Juli 2004.


Aksi

Information

2 responses

29 01 2010
Deni Suryana

Subhanallah…
Salam Kenal Akhi….
http://denisuryana.wordpress.com

30 01 2010
erfandi

salam kenal juga akhi… ^_^
nuhun dah mampir..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: