Memberi Teladan yang Baik

3 02 2010

Catatan si Fulan adalah catatan pengalaman pribadi penulis, sebagai bahan renungan, introspeksi dan juga inspirasi. Semoga bermanfaat.

Si fulan memiliki seorang teman, yang terbiasa mengucapkan (menulis) salam secara lengkap, assalamu’alaikum warahmatullahi wa barakatuh. Kebiasaan tersebut lantas ditiru oleh teman lain bukan karena apa-apa, hanya karena berharap mendapat berkah yang lebih. Memang, terasa biasa saja ucapan salam yang demikian; atau malah terlalu berlebihan, karena membutuhkan waktu lebih, energi lebih, dan bahkan biaya lebih, untuk mengucapkannya atau menuliskannya. Tetapi benarlah apa yang disampaikan seorang teman si fulan yang disebutkan terakhir, ada berkah yang lebih yang menyertai waktu, energi dan biaya yang berlebih tersebut. Imran bin al-Hushain r.a, pernah berkata bahwa: “Ada seorang lelaki datang kepada Nabi SAW, lalu ia mengucapkan: Assalamu ‘alaikum. Kemudian beliau SAW membalas salam orang tadi lalu duduk terus bersabda: “Sepuluh,” maksudnya pahalanya dilipatkan sepuluh kalinya. Selanjutnya datang pula orang lain lalu ia mengucapkan: Assalamu ‘alaikum warahmatullah. Beliau SAW lalu membalas salamnya orang itu, lalu duduk lagi: “Dua puluh,” maksudnya pahalanya dilipatkan dua puluh kali. Seterusnya ada pula orang lain yang datang, lalu mengucapkan: Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wa barakatuh. Kemudian beliau s.a.w. membalas salam orang tersebut, lalu duduk terus bersabda: “Tiga puluh,” maksudnya pahalanya dilipatkan tiga puluh kali.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi). Inilah keutamaan salam yang lengkap yang dibiasakan oleh teman-teman si fulan, bukan berlebihan tetapi membawa pahala yang lebih banyak. InsyaAllah.

Membiasakan melakukan sesuatu yang baik adalah sangat dianjurkan, meskipun sesuatu itu sangat sederhana di mata orang awam. Seperti yang telah dilakukan oleh teman si fulan, yang selanjutnya ditiru oleh beberapa teman lain. Mungkin kita tidak ada niatan agar orang lain melakukan hal yang sama dengan apa yang kita lakukan. Akan tetapi, jika ternyata ada orang lain yang ikut-ikutan membiasakan diri mereka melakukan kebaikan tersebut, meskipun tanpa sepengetahuan kita, maka ada pahala besar yang diperuntukkan bagi kita. “Barangsiapa yang memulai membuat sunnah dalam Islam berupa amalan yang baik, maka ia memperoleh pahalanya diri sendiri dan juga pahala orang yang mengerjakan itu sesudah -sepeninggalnya – tanpa dikurangi sedikitpun dari pahala-pahala mereka yang mencontohnya itu,” demikian sabda Rasulullah sebagaimana diriwayatkan Imam Muslim.

Mungkin kita bisa memulai membiasakan diri membaca basmallah sebelum melakukan segala sesuatu yang baik, semisal hendak makan dan minum. “Apabila seseorang dari engkau semua makan, maka hendaklah menyebutkan nama Allah Ta’ala – yakni mengucapkan Bismillah,” itulah pesan Rasulullah kepada kita. Dalam pada ini, termasuk kebiasaan menjaga lidah untuk tidak berkata buruk, mencela, menyakiti, ghibah, adu domba, hasud, dan sebagainya; akan tetapi membasahi lidah dengan dzikrullah. Bukan berniat agar dilihat dan dipuji oleh orang lain, akan tetapi bisa jadi ada orang lain yang tergerak hatinya untuk meneladani kebiasaan tersebut. Atau kebiasaan mendahulukan anggota badan yang kanan, semisal saat memakai sandal/sepatu, sebagaimana Rasulullah yang gemar sekali mendahulukan anggota kanannya dalam segala hal yang dilakukan olehnya, baik dalam bersucinya, menyisir rambutnya serta mengenakan terumpahnya. Atau mungkin kebiasaan yang dilupakan kebanyakan orang yaitu menyingkirkan sesuatu dari jalan (tumithul adzaa ‘anith-thariq) agar tidak menghalangi orang berjalan, karena itu adalah bagian dari sedekah yang diajarkan Rasulullah.

Melakukan kebiasaan-kebiasaan baik, bertutur kata dan berperilaku baik, termasuk didalamnya memberi teladan atas kebiasaan baik tersebut, adalah satu hal yang urgen di masa sekarang ini. Bagaimana tidak, berbagai tayangan media elektronik dan sejenisnya begitu gethol memberikan teladan-teladan yang kurang baik. Sebut saja acara-acara komedi dengan intensitas tawa yang berlebihan; dengan seorang pemeran yang menjelek-jelekkan pemeran lain yang notabene bertampang jelek, memanggil nama dengan panggilan buruk (nama binatang, dll), serta laki-laki berdandan layaknya perempuan dan sebaliknya. Atau tayangan-tayangan infotainment (baca: gosip) yang membicarakan artis ini dan itu tanpa adanya kejelasan benar tidaknya, mengumbar aib di muka umum; menampilkan gaya hidup selebriti yang tak jarang jauh dari kesan beradab, khususnya dalam hal penampilan. Dan tentunya masih banyak lagi contoh–contoh lain yang semisal dengan hal itu. Kesemuanya berpeluang memberi andil bagi pembentukan perilaku masyarakat secara umum (baca: umat muslim), memberi teladan yang kurang baik. “Dan barangsiapa yang memulai membuat sunnah dalam Islam berupa amalan yang buruk, maka ia memperoleh dosanya diri sendiri dan juga dosa orang yang mengerjakan itu sesudahnya -sepeninggalnya- tanpa dikurangi sedikitpun dari dosa-dosa mereka yang mencontohnya itu,” inilah peringatan Rasulullah yang harus kita renungkan secara mendalam.

Nampaknya menghilangkan kebiasaan buruk dan mengganti dengan kebiasaan baik tidaklah mudah. Akankan si fulan dan anda mampu melakukannya?

Wassalamu ‘ala manittaba’al huda,

Wallahu a’lamu bish-shawab.

Malang, 30 Januari 2010 pk. 23.10 WIB

Irfan Andi

-Salam Setetes Embun-


Aksi

Information

5 responses

3 02 2010
Najwa Zuhur

Assalamu’alaikum warohmatuLLAH wabarokatuh . . .
(mengucapkannya ringan & mengasyikkan lg, smoga membawa barokah)

Thanks, pelajaran berharga. Mengingatkan kebiasaan anak kost2an. Masuk ke rumah, yang kedengerang cuma ” . . . Kum”, sampai susah jawabnya (” . . . Lam”). Tadi salam apa nyanyi india y masuk ke rumah. Salam kok cuma buntut doank, hehee

4 02 2010
erfandi

wa’alaikumussalam warahmatullohi wa barakatuh
saling mengingatkan ya.. ^_^

12 02 2010
Hembusan Angin

Assalamuallaikum warohmatullah wabarokatuh.Kadang sesuatu yg terlihat sepele sbenarnya malah memiliki manfaat yg luar biasa bila qt mau mentafakkurinya,selain salam yg baik dan benar contohnya,ucpan TERIMA KASIH jg mnjdi hal yg sering dilupakan oleh sbgian orang.Terimakasih sudah mengingatkan kami melalui untaian kata yg penuh makna diatas.

15 02 2010
Mbah Jiwo

salam knal…betul kata najwa tidak mudah. tapi itu wajib bagi seorang pemimpin…salam hangat.

17 02 2010
erfandi

@Hembusan Angin
Wa’alaikumussalam warahmatulloh wa barakatuh. anda benar sahabat,, kadang kita meremehkan hal ma’ruf yg kecil sperti ucapan terimakasih, dan juga wajah berseri ^_^. Terimakasih sahabat, sudah mau mampir,, saling mengingatkan ^_^

@Mbah Jiwo
salam kenal (lagi).. iya, tdk mudah, tp insyaAllah jg tdk sulit.. salam sejuk salamsetetesembun.. ^_^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: