Mereka (telah) Membuktikan Cintanya

17 02 2010

Jika air jalinan cinta kita berbeda

Air kita tetap menetes dari awan yang sama

Atau jika nasab kita yang berbeda

Kita disatukan oleh agama

Yang kita dudukkan laksana orang tua (A’idh Al Qarni)i

Adakah rasa cinta yang lebih mulia di sisi Allah selain rasa cinta karena-Nya? Adakah rasa benci yang dibenarkan selain rasa benci karena-Nya? Dan adakah persaudaraan yang lebih indah selain persaudaraan yang diikat karena-Nya? Sungguh, persaudaraan yang terjalin atas dasar cinta dan benci karena-Nya, adalah anugerah indah yang telah diberikan Allah Ar-Rahiim kepada hamba-hamba-Nya yang beriman, “wa allafa baina quluubikum, Dia telah mempersatukan hati mereka.” (QS.Al-Anfal [8]: 63). Mereka, orang-orang beriman satu sama lain adalah saudara, “Innamal-mu’minuuna ikhwah, Sesungguhnya, hanya sesama orang-orang berimanlah yang bersaudara.”(QS.Al-Hujurat [49]: 10); menghimpun cinta karena-Nya lantas membuktikannya dalam kata dan lakunya.

Cinta yang demikian adalah cinta yang sempat dibuktikan oleh ‘Ikrimah bin Abu Jahal r.a dan juga teman-temannya saat perang Yarmuk berkecamuk. Kondisi sekarat ‘Ikrimah tidak mengurangi rasa cintanya kepada teman-temannya, ketika air minum diberikan kepadanya, ia pun menolaknya, “berikanlah kepada selainku”. Mereka memberikan air itu kepada yang terluka lainnya, tetapi yang ini menolak, lalu mereka mendatangi yang terluka lainnya dan yang terakhir menolak pula, kecuali bila ‘Ikrimah telah meminumnya. Air kembali diberikan kepada ‘Ikrimah, tetapi tiba-tiba mereka menjumpainya telah meninggal dunia, demikian juga yang terluka lainnya, mereka sudah dalam keadaan tak bernyawa. Si pemberi minum lantas menangis dan melemparkan gelas, “Ya Allah, berilah mereka minum dari surga-Mu, karena sesungguhnya mereka telah gugur di jalan-Mu. Ya Allah, himpunkanlah kami bersama mereka di dalam surga,”ii sebuah harapan penuh rasa cinta agar kelak ia dihimpunkan kembali dengan saudara-saudara yang dicintai.

Adapun Muhammad SAW, beliau adalah orang paling suci cintanya kepada Rabbnya, terejawantah dalam kata dan lakunya. Beliau adalah orang yang paling aktif memenuhi janjinya, menyambung tali persaudaraan, paling menyayangi dan bersikap lemah lembut terhadap orang lain, paling bagus pergaulannya, paling lurus akhlaknya, paling jauh dari akhlak buruk, tidak pernah berbuat kekejian, bukan termasuk orang yang suka mengumpat dan mengutuk, bukan termasuk orang yang suka membuat hiruk pikuk di pasar, tidak membalas keburukan dengan keburukan serupa, tetapi memaafkan dan lapang dada, tidak membiarkan seorang berjalan di belakangnya, tidak mengungguli hamba sahaya dan pembantunya dalam masalah makan dan pakaian, membantu orang yang justru seharusnya membantu beliau, tidak membentak pembantunya, tidak menegurnya karena perbuatan pembantunya yang tidak beres atau tidak mau melaksanakan perintahnya, mencintai orang-orang miskin dan suka duduk-duduk bersama mereka, menghadiri jenazah mereka, tidak mencela orang miskin karena kemiskinannya.iii Inilah bukti cinta Muhammad SAW kepada Rabbnya yang terurai dalam kata dan lakunya kepada umatnya. Dan dalam salah satu katanya (baca: sabdanya), tersematkan perintah untuk saling mencintai kepada sesama saudara dengan memenuhi hak-hak persaudaraan: menjawab salam, memenuhi undangan, memberi nasihat, mendoakan orang yang bersin, menjenguk yang sakit dan mengiringi jenazah.iv

Termuliakanlah insan yang senantiasa menebarkan salam kepada saudara-saudaranya yang ditemuinya, “afsyuus-salaama bainakum, sebarkan salam di tengah-tengah kalian!”v membalasnya dengan penghormatan yang lebih baik atau setidaknya serupa dengannya,vi karena salam adalah bentuk penghormatan. Termuliakanlah insan yang senantiasa memenuhi undangan saudaranya, “jika ia mengundangmu, penuhilah,”vii selama di sana tidak ada kemunkaran yang menyelisihi syariat. Termuliakanlah insan yang senantiasa memberikan nasihat kepada saudaranya sebagai wujud rasa cinta, “jika saudaramu meminta nasihat kepadamu, maka berikan nasihat kepadanya!”viii Termuliakanlah insan yang mendoakan saudaranya agar beroleh rahmat ketika saudaranya bersin lalu memuji Allah (membaca hamdalah), karena bersin adalah rahmat dari Allah. Termuliakanlah insan yang menjenguk saudaranya yang sedang sakit, “Jika ia sakit, jenguklah ia”ix lantas mendoakannya, “laa ba’sa thahuurun insyaAllah, semoga sakitmu ini membuat dosamu bersih insyaAllah”x. Termuliakanlah insan yang bersedia mengiring jenazah saudaranya, “Dan jika ia meninggal dunia, hendaklah ia mengiringinya.”xi

Termuliakanlah insan yang senantiasa mendoakan saudaranya dari kejauhan tanpa sepengetahuan yang didoakan, karena sebaik-baik doa kepada saudara kita adalah yang demikian. Dan ketahuilah bahwa jika doa yang demikian dipanjatkan, maka akan ada seorang malaikat yang berkata, ”dan engkau juga mendapatkan pahala yang sama”.xii Sedangkan seorang pendahulu kita, Abu Darda’ pernah membuktikannya, “di antara saudara-saudaraku ada yang nama mereka aku sebut di waktu sahur (saat sholat malam), lalu aku doakan kebaikan untuk mereka.”

Termuliakanlah insan yang senantiasa menyematkan senyum indah di wajahnya, membahagiakan hati saudara yang memandangnya; ia tak ingin meremehkan amalan ma’ruf yang kecil seperti ini karena ia tahu bahwa yang demikian adalah sedekah,xiii dan sihir yang dihalalkan sebagaimana Rasulullah selalu menyematkannya di wajahnya yang mempesona.

Termuliakanlah insan yang senantiasa menjaga lisannya untuk tidak mengumbar aib saudaranya, enggan ‘memakan daging’ orang yang dicintainya. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? (QS. Al-Hujurat [49]: 12) Inilah pertanyaan sindiran dari Allah, yang melarang hamba-Nya berburuk sangka (su’uzhan), mencari-cari keburukan orang (tajassus), dan menggunjing (ghibah) mengumbar aib orang; dan tentunya jawaban “tidak!” akan keluar dari mulut kita karena merasa jijik untuk memakan daging sesama.

Termuliakanlah insan yang senantiasa mengunjungi saudaranya atas dasar cinta karena Allah, hingga tujuh puluh ribu malaikat memohonkan rahmat untuknya hingga sore hari, jika ia berkunjung di pagi hari; dan tujuh puluh ribu malaikat memohonkan rahmat untuknya hingga pagi hari, jika ia berkunjung di sore hari. Bahkan insan yang demikian juga berhak mendapatkan taman (kebun buah) di surga.xiv

Termuliakanlah insan yang senantiasa menjalin hubungan kekerabatan (silaturrahim), satu amalan paling agung yang akan menambah umur dan memberkahi hidup ini. Sedangkan perbuatan terbesar yang bisa mengeruhkan hidup ini, mengotori kecintaan, mengeraskan hati, dan menyia-nyiakan waktu adalah memutus tali silaturrahim, wal ‘iyaadzu billaah.

Termuliakanlah insan yang senantiasa memberi maaf orang lain atas kezhaliman yang dilakukan kepadanya; “orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.”(QS.Ali Imran [3]: 134). Bukankah Rasulullah telah memberi teladan indah atas sifat yang demikian? Saat beliau beroleh kemenangan pada hari penaklukan kota Mekkah dan berkata kepada kaum kerabatnya, “idz-habuu fa antumuth-thulaqa’, pergilah! Kalian adalah orang-orang yang dibebaskan.”xv Padahal mereka (kaum kerabat) adalah orang-orang yang memerangi dan melukai perasaan Rasulullah, dengan memukul anak-anak perempuannya, menyakitinya, mencaci maki dan mengusirnya dari kampung halamannya. Namun, Rasulullah dengan rasa cintanya, memberi maaf lantas mendoakan mereka, “ghafarallahu lakum, semoga Allah mengampuni kalian.”

Termuliakanlah insan paling mulia di dunia ini, Rasulullah Muhammad SAW yang menghimpunkan cinta suci dalam jiwanya, membuktikannya dalam kata dan lakunya. Dan kepada umatnya, ungkapan cinta itu pernah mengalun melalui lisannya yang suci dan mashduq (dibenarkan), “Ya Allah, ummati, ummati,”xvi Ungkapan kegelisahan penuh rasa cinta diiringi tetesan air mata atas kondisi umatnya kelak jika ditinggalkannya, hingga Jibril memberi kabar gembira bahwa Rabbnya akan memberikan keridhaan kepada umatnya, lantas beliau menjadi tenang mendengarnya. Inilah bukti cinta Muhammad SAW kepada Rabbnya yang terurai dalam kata dan lakunya kepada umatnya.

Adakah kita berlaku seperti halnya mereka yang telah membuktikan cintanya?

Wallahu a’lamu bish-shawab.

Malang, 16 Februari 2010

Pkl. 23.18 WIB

Irfan Andi

-Salam Setetes Embun, Salam Setetes Cinta-

_________________________________

i A’idh Abdullah Al Qarni, Pesona Cinta (judul asli: Fii Rihaabil Ukhuwwah), (Solo: Wacana Ilmiah Press, 2006), hlm. 55. Beberapa kutipan dan hadits dalam tulisan ini diambil dari buku tersebut.

ii A’idh Abdullah Al Qarni, Cambuk Hati (judul asli: Siyaathul-Quluub), (Bandung: Irsyad Baitus Salam, 2004), hlm. 206

iii Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfury, Sirah Nabawiyah (judul asli: Ar-Rahiqul Makhtum, Bahtsun Fis-Sirah An-Nabawiyah Ala Shahibiha Afdhalish-Shalati Was-Salam), (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2006), hlm. 637.

iv Hadits tentang hak-hak seorang muslim kepada muslim lainnya diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah r.a

v Ibid

vi Lihat QS. An-Nisa’ (4): 86

vii Diriwayatkan oleh Bukhari dari Abu Hurairah r.a

viii Ibid

ix Ibid

x Diriwayatkan oleh Bukhari dari Ibnu Abbas. Lihat pula Hisnul Muslim karya Sa’id bin Ali Wahf Al-Qahthani dan Al-Adzkar An-Nawawiyah karya Imam An-Nawawi.

xi Diriwayatkan oleh Bukhari dari Abu Hurairah r.a

xii Diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Darda’ r.a

xiii Diriwayatkan oleh Tirmidzi dan Ibnu Hibban dari Abu Dzar.

xiv Sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dawud, dan Tirmidzi dari sahabat ‘Ali r.a.

xv Diriwayatkan oleh Thabari, Baihaqi, Ibnu Hibban, dan Syafi’i.

xvi Diriwayatkan oleh Muslim dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash r.a. Lihat Riyadhush-Shalihin, karya Imam Nawawi pada bab ke-51.


Aksi

Information

One response

9 04 2010
Gabus

I do Like this akhi…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: