Uban yang Dihembuskan Angin Surga

18 02 2010

(Cerpen berikut adalah cerpen terbaik ke-2 kategori umum/mahasiswa dalam lomba Pentas Cerpen Islami (PENCIL) “Biarkan Pena Bicara” tahun 2007 yang diselenggarakan oleh FORKIM FIA UB dan FLP Malang, yang mana _pemilikblog adalah salah satu panitia kegiatan tersebut. _pemilikblog sempat menitikkan air mata ketika membaca cerpen ini, sungguh mengharukan! Moga manfaat.)

Oleh: Rialita Fithra Asmara*

Tubuh tua itu hampir renta termakan usia, tetapi jangan tanya kemampuan membacanya. Dia masih mampu membaca segala macam tanda, tanda yang sengaja disebarkan Sang Maha Agung pada segala penjuru tak peduli barat atau pun timur. Dititipkan-Nya tanda itu juga pada segala makhluk yang menghuni bumi, termasuk tubuh tua itu, ya di tubuhnya itu sekarang tersimpan tanda dan dia bisa membacanya.

Hari masih terlalu pagi tetapi kesibukan mencetak mimpi sudah dimulai, tubuh tua itu baru saja menjeda udara subuh yang menusuk lewat pertemuan yang agung dengan pemilik waktu. Seperti biasa, Pak Harjo pemilik tubuh tua itu sudah siap dengan korannya dan kaca mata bacanya di taman depan rumah. Pak Ming, pelayan setianya itu sudah mulai memberi makan ikan hias di kolam, tampak beberapa ikan berlompatan saling berebut makanan. Dari arah dapur terdengar suara istrinya yang membahana seperti lonceng pagi yang berdentang, memerintah para pelayan untuk menyiapkan aneka hidangan, maklum hari itu mereka akan kedatangan tamu agung apalagi kalau bukan calon besan.

Pak Harjo mulai membaca koran, kali ini ada kabar beberapa bencana yang menghempas seluruh pelosok negeri, membuat semua orang ngeri dan merasa tak nyaman hidup di negeri sendiri. Perang saudara, bencana alam, kelaparan, harga pangan yang melambung, sungguh membuat miris. Belum usai Pak Harjo membaca koran, terdengar langkah kaki istrinya yang sangat khas, menikah selama empat puluh tahun, membuatnya hapal beberapa kebiasaan kecil istrinya. Baru saja ia akan menolehkan kepala, sudah terdengar suara istrinya. Ah…suara itu tak semerdu dulu ketika masih pengantin baru.

“Pak, gimana rambut mama? Kemarin baru saja disemir merah, kata Mirna uban mama jadi nggak kelihatan dan mama tampak awet muda lho!” Bu Harjo mengerling manja ke arah suaminya.

Pak Harjo memperhatikan rambut istrinya yang berwarna merah, istrinya itu memang tampak awet muda dibanding dengan dirinya, biasa perempuan, mereka akan cemas bila dibilang sudah tua, atau ada sedikit keriput menghiasi wajah mereka. Jadilah istrinya itu mempunyai jadwal khusus ke salon dan memborong kosmetik-kosmetik mahal yang kalau dihitung-hitung, uang itu bisa untuk memberi makan anak panti asuhan sebelah selama seminggu.

“Masya Allah, si bapak ini, tuh uban udah begitu banyak dibiarin saja, nanti saya suruh Mirna untuk nyemir rambut bapak atau kalau bapak malu biar suaminya saja, si Bandi itu sekarang juga pintar kok ngerias orang!” Istrinya itu begitu antusias mempromosikan Mirna dan Bandi, sepasang suami istri pengelola salon langganannya.

Pak Harjo hanya menggelengkan kepala, melihat reaksi suaminya yang biasa saja, Bu Harjo menjadi gemas. Diambilnya koran yang masih dipegang oleh suaminya itu, ditatapnya mata suaminya itu dengan lekat. Kedua mata itu saling beradu, entah apakah mereka masih merasakan rasa yang sama saat mereka mengucapkan ijab kabul di depan penghulu dulu. Bu Harjo kalah, ia selalu tak kuasa memandang mata suaminya. Sebuah mata yang sempat memberi keteduhan beberapa tahun silam. Menurutnya, mata itu sungguh berbeda dengan masa awal pernikahan mereka. Bu Harjo kembali duduk di samping suaminya.

“Ma, mama kan punya daun pacar yang tumbuh di taman belakang, mama bisa memaanfaatkannya untuk pewarna rambut, mama tinggal menumbukya. Itu lebih alami dan bisa dibu…” Belum selesai Pak Harjo bicara, istrinya sudah menyelanya.

“Pak, itu kan dulu, sekarang serba praktis, lagian ngapain susah-susah numbuk segala, bikin tubuh ini pegal.” Pak Harjo mencoba menahan sesuatu yang menderu di hatinya saat mendengar pembicaraanya disela.

“Ma, lagian uban ini adalah tanda bagi kita yang renta, sudahkah kita mendekat kepada-Nya? Apakah mama tak bisa membacanya?” Pak Harjo memegang tangan istrinya dengan lembut, berharap istrinya mengerti.

Mendengar kata renta, telinga Bu Harjo panas, ia merasa dirinya masih muda. Selama ini ia sangat marah ketika dibilang renta oleh orang lain, kini suaminya sendiri yang bilang ia telah renta, ia sungguh tak terima.

“Yang renta itu siapa? Bapak atau saya, pokoknya saya tak mau tahu, bapak nggak boleh tampil kusam dengan uban bapak itu jika bertemu dengan calon besan kita nanti!” Bu Harjo meninggalkan suaminya dengan hati kesal. Pak Harjo kembali menggeleng-ngelengkan kepala melihat tingkah istrinya. Ia masih mendengar teriakan istrinya yang ribut memerintah sana-sini pada Iyem dan Ginah. Entah ia sendiri lupa kapan istrinya itu mulai mempunyai kegemaran berteriak-teriak. Yang jelas bukan saat malam dimana Allah pertama kali mengizinkannya untuk menyentuh pipi istrinya yang tampak ranum saat itu. Ah…kenapa dia jadi ngelantur seperti ini, apa ini karena pengaruh hawa anak lelakinya yang akan menikah? Hingga ia jadi ingat masa mudanya dulu.

Azis, di mana gerangan anak itu? Pak Harjo mengedarkan pandangannya ke seluruh taman, pagi begini anak itu mempunyai kebiasaan bercengkarama dengan Koko, seekor kelinci peliharaan berwarna coklat muda yang lembut. Jangan-jangan anaknya itu sama dengan ia ketika ia masih muda dulu, menyendiri di kamar saat hari pernikahan semakin dekat. Firasat sebagai seorang bapak menuntutnya untuk mencari anak lelakinya itu. Hampir saja ia sampai di kamar anaknya ketika lagi-lagi didengarnya suara teriakan istrinya.

“Pak! Bapak nanti pakai baju batik yang ini, ini batik bagus lho Pak, Mirna bilang….” Bu Harjo memperlihatkan baju batik yang bermotif cukup rumit tetapi artistik.

“Mirna, Mirna lagi, dia saja yang pakai baju batik itu, lagian Bu, berapa rupiah yang sudah masuk ke kantongnya? Lebih baik uangnya ibu tabung atau buat syukuran nikah anak kita nanti!” Pak Harjo sudah mulai bosan dengan keborosan istrinya.

E,ee, mulai kapan bapak jadi perhitungan begini?”

“Sudahlah Bu, aku mau cari Azis, sehabis sholat subuh tadi aku tak melihatnya!” Pak Harjo menghindar dari badai pertengkaran yang mungkin terjadi, malu, pagi-pagi kok sudah bikin keributan.

“Bapak mencari saya?” Sesosok pemuda bertubuh tegap, di kepalanya masih bertengger peci bundar berwarna hijau warna kesukaannya. Kedua tangannya membawa setumpuk buku yang lumayan tebal.

“Lho, buku apa itu Zis?” Pak Harjo heran, tidak biasanya Azis membaca buku di pagi hari. Apalagi buku-buku yang tebal-tebal begitu.

Ditanya seperti itu, wajah Azis jadi memerah. Ditunjukkannya sampul dari salah satu buku tersebut. Pak Harjo dan Bu Harjo memandanginya dengan dahi berkerut.

“Lha, suruh juga bapakmu ini baca biar dia itu mengerti, dunia para perempuan!” Bu Harjo meninggalkan bapak dan anak itu ketika didengarnya suara Ginah yang memanggilnya.

Azis tersenyum sambil memandang wajah bapaknya.

“Kau bisa membacanya kan? Itu, itu dunia para perempuan, ya mamamu itu.” Pak Harjo memandangi punggung istrinya yang lambat laun hilang di balik pintu dapur.

“Ah, bapak ini, walupun mama begitu bapak cinta kan sama mama? Buktinya lahir saya yang tampan ini.”

“Kau ini ada-ada saja, ayo sini bapak mau ngomong!” Pak Harjo mengamit tangan anak ragilnya itu.

Mereka menuju ruang perpustakaan, Azis meletakkan buku-bukunya di meja. Ia melihat wajah bapaknya yang berubah serius, ia sedikit takut jangan-jangan bapaknya mulai mempermasalahkan calon istrinya, tetapi bukankah lamaran telah dilakukan. Aziz menepis firasat buruk itu, dengan sabar ia menunggu bapaknya itu mengeluarkan suara.

“Zis, bapakmu ini sudah renta, sudah tak sekuat dulu, sementara bapak mulai membaca tanda, jadi kupikir, sudah saatnya semua dialihkan” Pak Harjo melepas kaca matanya.

Azis memandangi mata bapaknya, seolah akan ada aliran sungai yang akan terbentuk di sana. Apakah bapaknya menangis?, yang ia tahu lelaki itu pantang menangis, pasti bapaknya dalam suatu situasi yang amat menjempitnya. Belum sempat ia mengatakan sesuatu, Ginah muncul sambil membawa dua cangkir teh hangat dan dua tampuk roti tawar.

“Terima kasih, Bi!” Azis sangat menyukai perempuan itu, Bi Ginah baginya sudah seperti ibunya sendiri. Bi Ginah selalu bercerita tentang penjajah Jepang pada zaman dahulu yang selalu suka mendatangi rumahnya untuk mengambil kelinci peliharaanya.

Sepeninggal Bi Ginah, Azis mendekatkan tempat duduknya dengan bapaknya. Diperhatikannya wajah bapaknya sekali lagi, wajah itu memang semakin tua, ada guratan kepedihan yang samar-samar terlihat dari wajah tua itu.

“Bapakmu ini merasa gagal mendidik mamamu jika bapak pergi nanti, jagalah ibumu!”

“Pak, bapak tidak boleh berkata seperti itu, jika Allah mengizinkan pasti usia bapak masih panjang!”

Suasana hening, mata tua Pak Harjo memandang ke arah buku-buku yang tertata rapi di perpustakaan itu.

“Tambak udang kita yang ada dekat rumah Budhe Darmi nanti tolong dijual, uangnya berikan pada panti asuhan.”

Azis tak berkomentar, hanya diam mematung, bibirnya terasa kelu. Ada perang batin yang berkecamuk dalam dirinya, ia tak ingin kehilangan ayahnya secepat itu.

“Nak di dunia ini ada tanda yang harus kita baca dengan baik, kerusakan hutan, bencana alam yang tiada henti-hentinya ini, semuanya adalah tanda, kau harus mampu membacanya dengan baik.” Pak Harjo memandang lekat anak ragilnya itu, seolah ia ingin menembus hati anaknya itu lalu mengatakan bapak begitu mencintaimu Nak.

“Azis tak mengerti maksud bapak.”

“Ah, sudahlah, nanti kau akan mengerti, oh ya, kapan calon mertuamu itu tiba di sini?”

“Nanti sore, ba’da ashar.”

“Pergilah, kau pasti tidak sabar untuk membaca buku-buku itu!” Pak Harjo menyuruh anaknya itu pergi, ia ingin sendirian, mata tuanya terpejam beberapa detik kemudian terbuka lagi, sebuah kebiasaan yang menandakan ia seakan berpikir tentang sesuatu.

“Tapi Bapak…?” Azis tak tega meninggalkan bapaknya dalam keadaan seperti itu, ia bisa menghirup udara kesepian yang menusuk tulang sumsum laki-laki tua itu. Beberapa bulan ini, memang ia jarang menjumpai bapak dan mamanya itu saling bercengkrama. Sebaliknya mereka sering ribut-ribut karena hal kecil. Keadaan seperti itu sedikit terkurangi ketika Azis menyampaikan hasrat hatinya untuk menikah. Entahlah Azis tak mengerti apa sebenarnya yang terjadi di antara kedua orang tuanya itu. Baru beberapa langkah ia meninggalkan ruangan perpustakaan, pemuda berpeci hijau itu menolehkan kepalanya, dilihatnya ayahnya yang memandang ke arah jendela ruang perpustakaan yang kordennya terbuka. Di balik korden itu terlihat mamanya yang sibuk memerintah Pak Ming menata taman depan rumah. Sebuah pandangan yang aneh, ataukah itu pandangan cinta. Azis tak bisa menafsirkannya.

Membaca keadaan yang seperti itu, hati Azis sedikit gamang, untuk melangkah menuju pernikahan, apakah istrinya nanti bisa membahagiakannya atau sebaliknya. Tidak, dia tidak boleh berpikiran seperti itu, yang penting sekarang nawaitu.

Beberapa buku yang di bawanya jatuh, menyadarkannya bahwa agenda hari ini adalah membaca buku-buku itu. Sebuah buku yang memberikan gambaran tentang dunia kaum perempuan.

Jam demi jam berlalu, Azis masih asyik dengan buku bacaannya, mamanya masih teriak-teriak memerintah sana-sini, dan bapaknya masih berdiam diri di ruang perpustakaan. Suara adzan dhuhur mulai terdengar, memecah kesibukan siang yang terjadi di rumah itu, Azis segera berdiri untuk mengambil wudhu, di tunggunya bapaknya di tempat sholat. Menit demi menit telah terlewati, Pak Harjo belum juga menampakkan wajahnya ke ruang sholat itu. Langkah kaki terdengar mendekat ke arah tempat sholat.

“Tumben, bapak kok…lho Pak Ming , kukira bapak.” Azis kaget karena yang datang ternyata adalah Pak Ming dengan sarung hijau kotak-kotaknya.

“Lho, ndak tahu, Den, saya kira ya sudah sholat dengan aden.” Pak Ming membenarkan letak pecinya yang agak miring.

Firasat aneh itu kembali muncul di benak Azis, dengan langkah tergesa ia segera menuju ruang perpustakaan. Azis bernafas lega ketika melihat bapaknya yang sedang duduk, di depannya ada buku dengan halaman yang terbuka. Didekatinya bapaknya itu, rupanya lelaki itu tertidur dengan pulas. Azis tak tega untuk membangunkannya, tetapi bapaknya itu akan marah besar jika tak ada orang yang membangunkannya ketika adzan berkumandang. Dengan lembut Azis membangunkan bapaknya.

“Pak sholat dhuhur.” Azis memegang pergelangan tangan bapaknya, darah Azis terkesiap, tak ada denyut di sana. Ia kembali membangunkan bapaknya berkali-kali tapi yang dibangunkan tak kunjung sadar. Beberapa detik kemudian baru ia sadar bahwa bapaknya tak lagi bernafas.

“Ma…., Pak Ming , Bi Ginah……….!!! Semua berlari tergopoh-gopoh menuju ke arah sumber suara. Tak biasa Azis berteriak seperti itu, pasti ada yang gawat, demikian pikir mereka yang menerima panggilan itu.

“Kamu ini kenapa? Teriak-teriak begitu, sudah tahu semua pada sibuk masih….” Belum selesai Bu Harjo bicara, matanya kaget melihat ke arah suaminya yang tampak tertidur, hatinya kembali panas, bisa-bisanya suaminya itu tidur di hari sibuk begini bukan malah membantu.

“Tuh, lihat bapakmu, bisa-bisanya ia tidur…!”

“Ma, bapak sudah pergi.” Azis memotong pembicaraan ibunya.

“Pergi ke mana? jelas-jelas duduk di situ.” Bu Harjo mulai merasakan ada sesuatu yang tidak beres.

“Ma, bapak sudah tak bernafas.” Azis memberi penjelasan sekali lagi yang dirasakan oleh Bu Harjo seperti segerombolan lebah yang siap menyengatnya.

“Apa?” Bu Harjo segera mendekat ke arah suaminya, digerak-gerakannya tubuh pria yang pernah menjadi tempat tulang rusuknya itu. Tetap saja, tak ada reaksi. Mata Pak Harjo tetap terpejam. Melihatnya, tubuh Bu Harjo terasa lemas, Azis memeluknya dengan erat seolah ingin berbagi rasa sedih yang begitu pekat.

Pak Ming segera menghubungi dokter keluarga, anak-anak majikannya dan saudara-saudara majikannya. Belakangan baru diketahui ternyata Pak Harjo terkena serangan jantung. Rombongan calon besan yang awalnya untuk bersilaturahmi berbalik menjadi kunjungan ta’ziah. Hidangan yang semula hanya disediakan untuk kunjungan rombongan itu, kini juga diperuntukkan para tetangga dan kerabat yang datang membatu prosesi pemakaman Pak Harjo.

Bu Harjo dari tadi diam saja, ia tak sadar jika make upnya mulai luntur karena menangis sejak tadi, padahal biasanya ia akan merasa tidak nyaman sekali jika riasan di wajahnya itu luntur. Di sebelahnya, tampak Azis yang menampakkan raut muka muram tapi ia berusaha untuk tegar, bagaimana tidak, di hari pernikahannya nanti, ia tak lagi didampingi bapaknya. Di dapur, tampak Aini dan kakak perempuan Azis serta beberapa perempuan lain yang membantu Ginah dan Iyem menyiapkan hidangan. Aini adalah calon istri Azis, ingin rasanya ia merengkuh tubuh calon suaminya itu untuk sekedar memberikan kehangatan dan kekuatan, andai itu tak dilarang. Dia merasakan kesedihan calon suaminya itu.

Meninggalnya Pak Harjo membuat hari pernikahan Azis dan Aini ditunda beberapa minggu. Kesepakatan itu disetujui oleh kedua belah pihak. Hingga larut malam, tamu masih datang silih berganti ke rumah Bu Harjo. Mereka datang untuk sekedar memberi kekuatan pada nyonya rumah atau mereka juga sedang membaca tanda yang kini ada di hadapan mereka. Azis menyampaikan keinginan terakhir bapaknya untuk menjual tambak udang dan uangnya disumbangkan ke panti asuhan.

“Lakukan saja apa yang diinginkan bapakmu!” jawab mamanya waktu itu.

Beberapa hari setelah kematian Pak Harjo, di rumah itu tak terdengar lagi suara teriakan Bu Harjo. Ia sekarang lebih suka berdiam diri di kamar, bahkan ia mulai jarang pergi ke salon Mirna padahal perempuan itu berulang kali telepon mengabarkan bahwa ada jenis kosmetik terbaru yang bisa mempertahankan wajah jadi awet muda.

Pagi itu, Bu Harjo pergi ke taman depan, biasanya ia akan melihat suaminya yang tengah asyik membaca koran dengan kacamata bacanya. Ia jadi teringat percakapan dengan suaminya, ia pegang beberapa helai rambutnya, sudah kembali putih. Ia teringat sesuatu, segera ia berjalan ke taman belakang. Pak Ming yang melihatnya segera menyapa majikannya itu.

Ndoro putri mau kemana kok tergesa begitu?”

“Ke taman belakang mau ambil daun pacar.”

“Saya ambilkan saja.”

“Tak usah, Pak Ming kasih makan aja ikan-ikan di kolam!” Bu Harjo meninggalkan Pak Ming yang kali ini tampak terbengong-bengong tak mengerti. Majikannya itu banyak berubah sejak kematian suaminya. Apakah begitu ya, jika ditinggalkan oleh orang yang lekat di hati? Ia jadi teringat tentang dirinya sendiri, waktu itu ia baru saja ditinggal mati istrinya, betapa ia sedih tak kepalang.

Saat hendak menuju taman belakang, Bu Harjo melihat sesuatu yang tampak putih ditimpa sinar mentari, sesuatu terletak di rak buku, di bawahnya tampak sebuah buku yang terjatuh. Bu Harjo masuk ke ruang perpustakaan itu, sesuatu itu ternyata uban yang seukuran dengan rambut suaminya. Bu Harjo termangu memandangi uban itu hingga ia tak merasakan kehadiran anaknya.

“Mama, saya cari ke mana-mana ternyata, mama di sini.” Azis mendekat ke arah mamanya.

“Uban ini dihembuskan angin surga anakku, ia datang untuk menghapus kerinduanku.” Bu Harjo menunjukkan uban itu kepada anaknya.

“Ma, bapak sudah pergi, ikhlaskanlah!” Azis memeluk tubuh mamanya yang entah sejak kapan tampak ringkih. Azis heran melihat rambut mamanya yang kembali putih, tak disemir seperti dulu.

“Ma, ini? Azis menunjukkan helai rambut mamanya yang tampak putih.

“Uban ini adalah tanda anakku , kita harus membacanya!”

“Membaca, apa maksud mama?”

“Mama akan membacanya dengan sholat dhuha pagi ini.” Bu Harjo meninggalkan Azis yang entah apa yang dia rasakan saat ini, yang jelas ia seperti merasakan hembusan angin surga, di antara rambut putih mamanya yang tergerai ditiup angin.

“Bapak, sangat mencintai mama!” Azis berteriak dan ia merasa mamanya itu tersenyum walaupun tak melihatnya.

*mahasiswa Sastra Indonesia Univ. Negeri Malang (saat cerpen ini dilombakan)


Aksi

Information

5 responses

19 02 2010
Rialita

Wah, senangnya jika ada pembaca mengapresiasi cerpen saya. Terimakasih

21 02 2010
erfandi

terimakasih mbak ats komennya,,
kemarin mau ijin k blogny Mbak (multiply), ttp ndak bisa, hrs sign up..
So,,terus berkarya..^_^

23 02 2010
Rialita Fithra Asmara

trims, cerpen itu kurang rapi maklum dulu masih mahasiswa;-)

9 04 2011
bigfans of umi lita

wah, cerpen yang keren ! membuat saya segera beranjak untuk mengambil pena dan menuliskan sesuatu–apa saja–di atas sehelai kertas🙂

1 08 2011
ucik

hmm….
ibu so sweet dech…🙂
pngin niru nich😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: