FORKIM Gelar Muktamar XIV

9 03 2010

Forum Kajian Islam dan Masyarakat (FORKIM) FIA UB baru-baru ini menggelar acara Muktamar XIV bertemakan “Menyongsong Amanah Kepemimpinan,” tepatnya pada tanggal 5-7 Maret 2010. Acara ini ditandai dengan stadium general (baca: pembukaan) yang dilaksanakan pada hari Jum’at, 5 Maret 2010 pukul 13.30 WIB di Ruang 25 Gedung D3 Lt. 3. Hadir dalam pembukaan tersebut para pengurus FORKIM Periode 2009-2010, staff magang dan mantan pengurus (alumni) diantaranya, Ust. Irwan Baddu, S.AB (mantan Ketua Umum 2005-2006) yang juga bertindak selaku pemateri, Ihyaul Ulum, S.AP (mantan Ketua Umum 2007-2008), Hanang Satoto, S.AB (mantan Sekretaris Umum 2006-2007), Robert Rusdianto, S.AB (mantan Kabid ART 2006-2007), Hennu Afianta, S.AB (mantan Bendahara Umum 2006-2007), dan beberapa alumni lain.

suasana pembukaan Muktamar FORKIM XIV

Ust. Irwan Baddu, dalam pemaparan materinya menekankan perlunya pengorbanan dari masing-masing pengurus dalam menjalankan amanah di FORKIM. Ust. Irwan juga menyampaikan beberapa hal yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin, diantaranya adalah: keikhlasan, pengorbanan, kepekaan terhadap perubahan, sikap amanah, dan keilmuan baik ilmu syar’i maupun ilmu-ilmu praktis. Selain pembukaan, hari pertama Muktamar XIV ini juga diisi dengan agenda pemilihan presidium. Adapun presidium yang terpilih melalui mekanisme musyawarah tiap-tiap angkatan adalah: Khairul Umam (Bisnis’08), Saiful Ulum (Publik’09), dan Adhadi Ismail (Publik’09).

Hari II: Menunggu Hasil Penilaian

Hari ke dua Muktamar XIV, dimulai pukul 08.00 WIB di tempat yang sama, dengan agenda awal pembahasan tata tertib Muktamar XIV dan dilanjutkan dengan agenda pembahasan LPJ masing-masing pengurus. Erwandi Wibisono, Ketua Umum periode 2009-2010 menyampaikan laporan pertanggungjawabannya terkait dengan capaian platform selama satu tahun. Platform dimaksud adalah target yang harus dicapai selama satu tahun kepengurusan, yaitu target kaderisasi dan ke-syiaran. Target kaderisasi meliputi berdakwah dan merekrut kader secara kualitas dan kuantitas sebanyak 100 kader; melakukan pembinaan dan penjagaan kader; dan pencapaian muwashofat (karakteristik) kader FORKIM. Sedangkan target ke-syiaran adalah melakukan dakwah pada semua mahasiswa baru; perpindahan sekretariat; serta penguatan di sisi keIslaman, melalui optimalisasi perpustakaan dan kegiatan administrasi Islam.

Berkaitan dengan target kaderisasi, Erwandi menjelaskan bahwa ketiga poin tersebut, sebagian besar belum dapat tercapai dengan baik. Adapun yang menjadi permasalahan, menurut Erwandi, adalah terkait jumlah kader yang kurang memadai untuk melakukan perekrutan serta konsep pembinaan yang belum disiapkan secara matang. Hal demikian mengakibatkan pencapaian muwashofat (karakteristik) kader FORKIM sulit untuk dipenuhi. Sedangkan berkaitan dengan target ke-syiaran, poin 1 dan 2, yaitu berdakwah kepada mahasiswa baru dan perpindahan sekretariat dapat dikatakan terpenuhi dengan baik. Namun, dalam kaitannya dengan optimalisasi perpustakaan dan kegiatan administrasi Islam, hal ini dapat dikatakan belum terpenuhi dengan baik. Secara umum, apa yang menjadi permasalahan semua pengurus adalah berkaitan dengan komunikasi ikhwan dan akhwat, koordinasi antar pengurus dan juga keaktifan pengurus.

Setelah dilakukan pembahasan LPJ oleh peserta Muktamar XIV, diadakan proses penilaian terhadap kelayakan LPJ, dengan opsi diterima, diterima dengan syarat, dan ditolak. Adapun pihak yang menilai adalah peserta Muktamar XIV selain pengurus FORKIM periode 2009-2010; yaitu alumni dan staff magang. Proses penilaian berlangsung hampir satu jam, dan hasilnya diumumkan pada hari ke-tiga Muktamar XIV, dikarenakan hari menjelang maghrib. Presidium mengetok palu 2 kali menandai sidang ditunda hingga esok hari.

Hari III: Ending yang Mengharukan

Pukul 08.00 WIB, terlambat 30 menit dari jadwal yang ditentukan sebelumnya, palu sidang diketok 2 kali, penundaan sidang (pending) dinyatakan dicabut; Muktamar XIV hari ke-tiga dimulai. Dewan Syuro’ (DS) membacakan pandangan umumnya terkait dengan kepengurusan FORKIM periode 2009-2010. DS memberikan beberapa catatan diantaranya adalah terkait proses kaderisasi yang secara kualitas belum menunjukkan tingkat keberhasilan; dan juga keberadaan sekretariat baru FORKIM yang perlu dioptimalkan kembali. Selain menyampaikan pandangan umumnya, DS juga mempersembahkan satu video berisi dokumentasi kegiatan dan kesan pesan beberapa pengurus. “Di sini berbagi suka duka yang mendewasakan,” itulah yang menjadi kesan pesan Erwandi selaku Ketua Umum. Sedangkan Eka Dian, Ketua Keputrian, memberi kesan bahwa FORKIM sebagai “sarana menuju perbaikan diri.” Dan “Hamasah!” demikian imbuhnya.  Terakhir, DS menyampaikan hasil penilaian terhadap LPJ kepengurusan, dengan memperhatikan aspek pencapaian platform (target 1 tahun), teknis penyajian LPJ serta realisasi program kerja; dan hasilnya diterima dengan syarat!. Adapun syarat-syarat dimaksud meliputi: istighfar, melengkapi penyajian data LPJ, perbaikan LPJ Ketua Umum, pembelajaran dan sosialisasi muwashshafat (karakteristik), pembuatan database kader, sosialisasi struktur pengurus 2010-2011 di Musyawarah Kerja, pelaksanaan agenda ukhuwah internal, pembuatan database muwashofat akhwat oleh keputrian, serta penyampulan LPJ. Hasil perbaikan LPJ tersebut disyaratkan untuk disampaikan pada Musyawarah Kerja 2010-2011. Presidium membacakan Surat Keputusan bahwa kepengurusan FORKIM periode 2009-2010 dinyatakan demisioner.

Agenda Muktamar XIV berlanjut dengan pembahasan blueprint (baca: target tiga tahunan) yang notabene telah dibentuk tim khusus untuk menyusun blueprint tersebut pada Muktamar XIII lalu. Namun, Lestari Eko W selaku koordinator tim khusus yang juga mantan Ketua Umum 2007-2008), menyatakan bahwa tim khusus belum dapat menyusun blueprint yang dimaksud dikarenakan beberapa alasan. Atas dasar kondisi tersebut, sidang Muktamar XIV menyepakati untuk menampung segala usulan peserta Muktamar XIV yang kelak dijadikan referensi bagi penyusunan blueprint. Sedangkan tim khusus yang akan menyusun blueprint terdiri dari 2 orang perwakilan masing-masing angkatan. Dalam pada ini, sidang Muktamar XIV juga menyepakati target 1 tahun kepengurusan yang didasarkan pada usulan-usulan peserta Muktamar XIV. Target-target tersebut meliputi optimalisasi perekrutan dan penjagaan kader baik secara kualitas dan kuantitas, penguatan lembaga, penguatan hubungan dengan birokrat kampus, serta syiar pemakaian jilbab.

Menjelang waktu ‘ashar, Muktamar XIV hampir mencapai puncaknya dengan pembahasan tata tertib pemilihan ketua umum dan formatur. Setelah tata tertib disepakati dan SK dibacakan, musyawarah masing-masing angkatan untuk mengusulkan nama calon ketua umum, formatur, dewan syura’ dan tim khusus blueprint, dimulai. Sebelum musyawarah dilaksanakan, mantan Dewan Syura’ menyampaikan terlebih dahulu hasil dari fit and proper test beberapa pengurus yang memenuhi syarat dicalonkan menjadi ketua umum, sebagai referensi bagi peserta Muktamar dalam menentukan calon pilihannya. Tepat pukul 15.30 WIB, semua peserta Muktamar XIV kembali ke ruang sidang setelah melaksanakan musyawarah per-angkatan dan sholat ‘ashar. Hendix Hermawan, yang mewakili panitia Muktamar XIV mengumumkan hasil polling calon ketua umum yang telah dihimpun di database muktamar center. Hasilnya, nama Damas Dwi Anggoro mendapat prosentase tertinggi di atas 50 %. Polling ini hanya sebagai sarana memeriahkan kegiatan Muktamar XIV, sehingga hasilnya tidak mempengaruhi mekanisme pemilihan ketua umum.

Pada saat peserta Muktamar XIV harap-harap cemas terhadap siapa calon terpilih, tiba-tiba listrik padam dan turun hujan deras disertai angin kencang. Namun, proses pemilihan tetap berlanjut dengan penyampaian usulan calon oleh masing-masing angkatan. Muncul tiga nama, Achmad Zulchizar/Izar (Publik’07), Niko Pahlevi (Publik’08), dan Damas Dwi Anggoro (Bisnis’08) sebagai calon ketua umum. Ketiganya diminta maju untuk dikritisi apakah mereka memenuhi syarat menjadi ketua umum sesuai dengan tata tertib. Ketiganya tampak begitu tenang. Izar duduk di kursi paling kanan mengenakan kemeja batik lengan panjang warna coklat; Niko duduk di tengah dengan kemeja motif kotak berlengan pendek warna biru tua keabu-abuan; sedangkan Damas duduk paling kiri mengenakan baju takwa lengan panjang warna putih. Pertanyaan tentang syarat-syarat ketua umum dijawab oleh masing-masing dengan tegas, dan ketiganya dinyatakan memenuhi syarat-syarat dimaksud dan bersedia menjadi ketua umum. Pada saat proses ini berlangsung, listrik kembali hidup, dan lampu pun menyala.

Damas Dwi Anggoro

Dikarenakan calon belum mengerucut, sidang Muktamar XIV menyepakati diadakan musyawarah seluruh peserta, tanpa melibatkan ketiga calon. Musyawarah cukup alot, karena beberapa peserta tetap kekeh dengan calon yang dipilihnya. Pertimbangan sisi positif dan negatif masing-masing calon disampaikan oleh para peserta, dan akhirnya peserta yang semula kekeh dengan pendiriannya menyatakan bersedia secara rela menerima siapapun yang menjadi ketua umum. Satu nama telah terpilih dalam musyawarah tersebut. Ketiga calon yang semula berada di luar dipanggil memasuki ruang sidang. Dengan mengucap basmallah, Adhadi Ismail, presidium sidang saat itu, menyampaikan bahwa ketua umum terpilih adalah Damas Dwi Anggoro. “Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar!” suara takbir bergema di ruang sidang diiringi rasa keharuan dan kebahagiaan.

Agenda dilanjutkan dengan pemilihan formatur dan Dewan Syuro’. Adapun yang terpilih menjadi formatur yang kelak bersama mantan ketua umum dan ketua umum terpilih menentukan struktur kepengurusan; adalah Hendix Hermawan (Publik’06), Achmad Zulchizar (Publik’07), Eka Dian K (Publik’06), Devi Atika Sari (Bisnis’07) dan Zuzum Anifa (Bisnis’07). Sedangkan Dewan Syura’ yang terpilih adalah Erwandi Wibisono (Publik’06), Fariz Febryansyah (Publik’07), Achmad Zulchizar (Publik’07), Eka Dian K (Publik’06), dan Eva Tri Yulianingrum (Bisnis’07). Tim Khusus penyusunan blueprint yang diusulkan oleh masing-masing angkatan adalah: Erwandi Wibisono (Publik’06), Eka Dian K (Publik’06), Fariz Febryansyah (Publik’07), Devi Atika Sari (Bisnis’07), Mathoriq (Publik’08), Auliya (Bisnis’08), Dian Sukma (Bisnis’09) dan Andriana (Publik’09). Kesemuanya ditetapkan dengan Surat Keputusan yang dibacakan oleh presidium.

Agenda sidang Muktamar XIV berakhir menjelang waktu maghrib, ditutup dengan do’a yang dipimpin oleh salah satu peserta sidang. Presidium sidang mengetok palu sebanyak tiga kali sembari mengucap salam tanda sidang ditutup, adzan maghrib pun berkumandang. Peserta sidang baik ikhwan maupun akhwat berhamburan saling berjabat tangan dan berpelukan antar sesama, memberi selamat kepada ketua umum terpilih. Aroma ukhuwah menyelinap hangat di antara tangan-tangan yang berjabat dan jiwa-jiwa yang berdekap. Fa wats-tsiqillahumma raabithataha, kuatkanlah pertalian kami Ya Allah. Dan aroma ukhuwah itu pun masih menyelinap hangat di antara shaf-shaf mereka dalam jamaah sholat maghrib di mushalla kecil FIA nan indah. (fan)


Aksi

Information

2 responses

24 07 2010
natiqahdr

Senantiasa dakwah tidak akan kehilangan tunas-tunas baru

18 01 2011
Erlin Fitriyanti

asw.salam dr anak FOKSI.
Innalillah,semoga melahirkan pemimpin yg amanah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: